Jakarta, CoreNews.id – Militer Amerika Serikat merencanakan pembagian Gaza menjadi dua wilayah jangka panjang: zona hijau dan zona merah. Zona hijau akan berada di bawah kendali militer Israel dan pasukan internasional, dengan rekonstruksi yang disebut segera dimulai. Sementara itu, zona merah dibiarkan tetap hancur tanpa rencana pembangunan. Pasukan asing dan tentara Israel juga bakal dikerahkan di bagian timur Gaza dengan “garis kuning” sebagai pembatas.
Seorang pejabat AS menyatakan rencana menyatukan kembali Gaza masih bersifat aspiratif dan sulit diwujudkan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan atas komitmen Washington dalam membangun pemerintahan Palestina di Gaza. Sebelumnya, AS membatalkan program alternative safe communities yang disiapkan bagi warga Palestina.
Tanpa pasukan perdamaian internasional, Gaza berisiko terjebak dalam situasi “bukan perang tetapi tidak damai”. Hingga kini, lebih dari 80 persen infrastruktur hancur, sementara jutaan warga terjebak di zona merah tanpa kejelasan arah rekonstruksi.













