Jakarta, CoreNews.id – Upaya pemulihan lingkungan hidup di Kalimantan Tengah terus diperkuat melalui kolaborasi multipihak. CarbonEthics, perusahaan restorasi ekosistem di Indonesia, resmi menandatangani perjanjian kerja sama jangka panjang dengan lima desa di Kabupaten Pulang Pisau untuk merestorasi lebih dari 21.000 hektar hutan gambut.
Kerja sama ini dijalankan melalui proyek Pulang Pisau PRESERVE, yang melibatkan Desa Henda, Pilang, Simpur, Tumbang Nusa, dan Tanjung Sangalang. Proyek ini menempatkan masyarakat lokal sebagai mitra setara, bukan sekadar penerima manfaat, dalam menjaga dan memulihkan ekosistem gambut yang memiliki peran penting bagi iklim dan keanekaragaman hayati.
Masyarakat Berdaya, Hutan Terjaga
Co-Founder & Chief Executive Officer CarbonEthics, Bimo Soewadji, menegaskan bahwa keberhasilan restorasi tidak dapat dipisahkan dari peran masyarakat.
“Kami percaya, ketika masyarakat berdaya, hutan akan terjaga dengan sendirinya. Perjanjian ini menjadi kerangka tanggung jawab bersama, transparansi, serta manfaat jangka panjang yang adil bagi masyarakat,” ujarnya, dalam siaran pers, 6/1/2026.
Melalui proyek ini, CarbonEthics bersama perwakilan lima desa menyusun rencana pemberdayaan jangka pendek, menengah, dan panjang. Program tersebut mencakup pengembangan kapasitas petani, penguatan kelompok perempuan, pelatihan organisasi desa, pendidikan melalui pelatihan dan beasiswa, hingga pengembangan potensi ekowisata berbasis desa.
Pengelolaan Hutan Lestari dan Inklusif
Kolaborasi ini mendapat dukungan dari berbagai pemangku kepentingan. Kepala Balai Perhutanan Sosial Banjarbaru, Eko Nopriadi, berharap kemitraan ini dijalankan dengan prinsip pengelolaan hutan lestari.
“Dengan niat baik bersama dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan, kolaborasi ini diharapkan menghasilkan manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat,” tuturnya.
Penandatanganan perjanjian dihadiri sekitar 40 peserta dari Kelompok Perhutanan Sosial, Kesatuan Pengelolaan Hutan, Balai Perhutanan Sosial Banjarbaru, Kelompok Kerja Sistem Hutan Kerakyatan, serta CarbonEthics. Kegiatan ini mencerminkan komitmen bersama untuk memulihkan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Pulang Pisau.
Tekan Kebakaran Hutan, Lindungi Keanekaragaman Hayati
Dalam satu dekade terakhir, Pulang Pisau menghadapi tantangan serius berupa kebakaran hutan, dengan tingkat kebakaran mencapai sekitar 7 persen per tahun. Untuk menjawab tantangan tersebut, proyek Pulang Pisau PRESERVE mengusung tiga pendekatan utama restorasi gambut, yakni:
- Rewetting (pembasahan kembali gambut),
- Revegetation (penanaman kembali),
- Revitalization (pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat).
Selain menekan risiko kebakaran, proyek ini juga berkontribusi melindungi biodiversitas yang masuk dalam daftar spesies terancam punah menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), seperti orangutan, kucing merah, owa kalawat, dan monyet ekor panjang.
Perkuat Ketahanan Iklim Pulang Pisau
Sebagai bagian dari komitmen terhadap prinsip keterbukaan dan penghormatan hak masyarakat adat dan lokal, CarbonEthics telah melaksanakan proses Free, Prior, and Informed Consent (FPIC) melalui sosialisasi dan diskusi terbuka dengan warga desa.
Perwakilan Lembaga Pengelola Hutan Desa Pilang, Rusli, menyampaikan harapannya agar kemitraan ini benar-benar memberikan manfaat jangka panjang.
“Dengan pola kerja sama ini, kami berharap terwujud hutan yang lestari dan masyarakat yang sejahtera,” ujarnya.
Kemitraan jangka panjang ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan iklim Pulang Pisau melalui pendekatan restorasi berbasis sains dan pemberdayaan masyarakat yang inklusif, sekaligus mendorong pemulihan alam dan konservasi biodiversitas secara berkelanjutan.













