Jakarta, CoreNews.id – Nama Sidharto Reza Suryodipuro mendadak menjadi buah bibir di kalangan diplomat internasional. Pada 8 Januari 2026, perwakilan dari berbagai negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa sepakat memilihnya sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia PBB. Sebuah kursi panas—dan strategis—di tengah dunia yang kian gaduh oleh perang, krisis kemanusiaan, serta tarik-menarik kepentingan geopolitik.
Bagi Indonesia, ini bukan sekadar prestasi simbolik. Penunjukan Sidharto menjadi sinyal bahwa Jakarta tak lagi hanya menjadi penonton dalam percakapan global tentang hak asasi manusia. Indonesia kini duduk di meja utama.
Sidharto lahir jauh dari hiruk-pikuk politik Tanah Air, tepatnya di Cologne, Jerman, pada 29 September 1966. Namun darah diplomasi mengalir kuat dalam keluarganya. Ia adalah cucu Suyoto Suryodipuro, salah satu perintis Kementerian Luar Negeri dan Radio Republik Indonesia—dua institusi yang lahir di masa awal republik.
Jejak intelektualnya ditempa di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Di kampus itu, Sidharto menekuni hubungan internasional, sebelum akhirnya resmi bergabung dengan Kementerian Luar Negeri pada 1986. Ia bukan tipe diplomat yang puas dengan jalur birokrasi. Pada 2003, ia menempuh pendidikan keamanan nasional di Amerika Serikat melalui beasiswa Fulbright—sebuah jalur yang sering ditempuh para pembuat kebijakan kelas dunia.
Kariernya melintasi banyak pos sensitif. Dari ruang-ruang sidang PBB di New York, ia menangani isu operasi perdamaian dan kemanusiaan. Di Canberra, ia merajut kepentingan ekonomi dan pendidikan Indonesia-Australia. Saat kembali ke markas besar PBB, ia berurusan langsung dengan konflik Afrika—wilayah yang penuh paradoks antara kekayaan sumber daya dan tragedi kemanusiaan.
Ketika menjabat Wakil Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Sidharto tak hanya bicara perdagangan. Ia ikut mendorong dialog lintas agama dan kerja sama melawan ekstremisme—dua isu yang kerap sensitif di panggung global.
Penugasannya sebagai Duta Besar RI untuk India dan Bhutan pada 2017 menandai babak lain. Ia menjadi duta besar pertama Indonesia untuk Bhutan, negara kecil di kaki Himalaya yang mengusung konsep Gross National Happiness. Di sana, Sidharto banyak berbicara tentang diplomasi berbasis nilai, bukan sekadar angka.
Pada 2020, ia kembali ke kawasan Asia Tenggara sebagai Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN. Di tengah pandemi dan dinamika Laut Cina Selatan, Sidharto memimpin berbagai pertemuan strategis yang menuntut keseimbangan antara stabilitas politik dan solidaritas regional.
Setahun lalu, ia dipindahkan ke Jenewa sebagai Perwakilan Tetap RI untuk PBB dan organisasi internasional. Kota ini bukan sekadar markas diplomasi, tapi juga pusat perdebatan HAM dunia. Dari sanalah, namanya mulai disebut-sebut sebagai kandidat kuat Presiden Dewan HAM PBB.
Kini, ia resmi menduduki jabatan itu.
Tantangannya tidak kecil. Dewan HAM PBB kerap dituding sebagai forum penuh kontradiksi: negara-negara yang dituduh melanggar HAM justru ikut menentukan arah kebijakan. Dalam situasi seperti ini, Sidharto berjanji akan mendorong dialog, bukan konfrontasi.
Ia ingin membangun arsitektur HAM global yang tidak sekadar normatif, tetapi juga operasional—mampu menyentuh korban konflik, pengungsi, dan kelompok rentan.
Bagi Indonesia, terpilihnya Sidharto adalah cermin dari diplomasi yang tak lagi sekadar reaktif. Ini adalah upaya untuk ikut menulis aturan main dunia.
Dan Sidharto kini memegang pena itu.













