Corenews.id
No Result
View All Result
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Daerah
  • Politik
    • Pemilu
  • Hukum
  • Pariwara
  • Bisnis
    • Keuangan
    • Ekonomi
    • Properti
    • Pasar Modal
  • Tekno
  • Gaya Hidup
  • Humaniora
  • Olah Raga
  • Tokoh
  • Opini
Corenews.id
No Result
View All Result

Prediksi OutSystems: Shadow AI Mengintai, Bisnis Bakal Dikuasai Agen Pintar di 2026

by Teguh Imam Suyudi
13 Januari 2026 | 18:00
in Tekno
prediksi-outsystens-tren-ai-2026-shadow-ai-agentik-bisnis

CEO OutSystems, Woodson Martin

Bagikan sekarang:

Jakarta, CoreNews.id – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) tak hanya mengubah cara orang bekerja, tapi juga mengacak-acak peta bisnis global. OutSystems, perusahaan pengembang platform low-code berbasis AI, membeberkan prediksi mereka soal arah penggunaan AI di dunia usaha pada 2026.

Dari ancaman shadow AI, munculnya sistem agentik yang makin cerdas, hingga pergeseran peran developer, semuanya disebut bakal menjadi penentu masa depan software enterprise.

Shadow AI Jadi Ancaman Baru

CEO OutSystems, Woodson Martin, memperingatkan bahwa shadow AI berpotensi menjadi masalah yang jauh lebih berbahaya dibandingkan fenomena shadow IT di masa lalu.

Jika sebelumnya penggunaan aplikasi tanpa izin hanya dianggap gangguan teknis, kini risikonya jauh lebih besar. Pasalnya, pengguna non-teknis kini bisa memanfaatkan Large Language Models (LLM) untuk membuat kode produksi, membangun alur kerja otomatis, bahkan menjalankan sistem tanpa pengawasan.

“Bayangkan jika karyawan menggunakan model AI yang tidak teruji untuk membuat sistem otonom. Risiko kebocoran data, kesalahan sistem, hingga kerugian reputasi bisa terjadi kapan saja,” kata Woodson, dalam siaran pers, 12/01/2026.

Menurutnya, ancaman ini bersifat laten, sulit dideteksi, dan dampaknya bisa sangat luas jika perusahaan tidak memiliki tata kelola AI yang kuat.

AI Tidak Lagi Serba Guna, Tapi Makin Spesifik

Sementara itu, CPTO OutSystems, Luis Blando, memprediksi bahwa AI di masa depan tidak lagi bersifat generik.

Pada 2026, AI akan lebih terspesialisasi sesuai kebutuhan industri. Alih-alih mencari satu “model terbaik untuk semua hal”, perusahaan akan mulai memilih teknologi AI berdasarkan tugas dan konteks spesifik.

“AI akan semakin fokus pada beban kerja tertentu, sehingga hasilnya lebih cepat, akurat, dan relevan,” ujar Blando.

Ia juga menyoroti kemunculan AI vertikal, yaitu model yang dilatih menggunakan data, bahasa, dan alur kerja khusus industri. AI jenis ini dinilai lebih unggul dalam menangani persoalan kompleks yang sulit dipecahkan oleh AI generik.

READ  iPhone 15 Resmi Masuk Indonesia, Pre-Order Mulai 20 Oktober

AI Agentik: Otomatisasi yang Lebih “Manusiawi”

Dari sisi operasional, CIO OutSystems, Tiago Azevedo, menyebut bahwa AI agentik akan berperan besar dalam “memanusiakan kembali” perusahaan.

AI agentik diprediksi akan mengambil alih tugas-tugas rutin dan administratif, mulai dari pengolahan data hingga proses onboarding karyawan.

Hasilnya? Manusia punya lebih banyak waktu untuk fokus pada kreativitas, strategi, dan interaksi sosial.

“Soft skills seperti kolaborasi, empati, dan pengambilan keputusan akan semakin penting,” kata Tiago.

Ia mencontohkan, ketika tugas administratif SDM diotomatisasi, produktivitas karyawan bisa meningkat hingga 30 persen. Bahkan, sekitar 23 persen tenaga kerja diproyeksikan akan berpindah ke peran baru yang lebih strategis.

Tahun 2026: Akhir Burnout Developer?

VP of Developer Relations OutSystems, Miguel Baltazar, menilai 2026 bisa menjadi titik balik bagi para developer yang selama ini dilanda burnout.

Berdasarkan survei 2024 terhadap 600 engineer, hampir 65 persen mengaku mengalami kelelahan kerja, meskipun sudah menggunakan AI. Penyebabnya? Kualitas hasil dari alat AI generatif masih belum konsisten.

“AI memang mengurangi pekerjaan repetitif, tapi kualitas software yang dihasilkan baru di kisaran 60 persen. Sisanya tetap harus diperbaiki manual,” ujar Miguel.

Di sinilah peran platform low-code berbasis AI dianggap krusial. Dengan menggabungkan otomatisasi dan tata kelola yang terintegrasi, platform ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi risiko burnout.

Menuju 2026: AI Harus Terkendali, Bukan Liar

OutSystems menegaskan bahwa masa depan AI di dunia bisnis bukan hanya soal kecepatan inovasi, tapi juga pengendalian.

Shadow AI diprediksi akan menjadi tantangan besar, sementara sistem agentik yang terspesialisasi akan semakin dibutuhkan untuk memberikan nilai nyata.

Di sisi lain, platform low-code berbasis AI akan membantu perusahaan mengembangkan aplikasi lebih cepat, lebih aman, dan lebih efisien—tanpa mengorbankan kesejahteraan para pengembang.

READ  5 Aplikasi untuk Cek Kualitas Udara
Tags: AI 2026Bisnis DigitalOutSystemsTeknologi Masa DepanTransformasi Digital
Previous Post

Vivo Luncurkan Vivo Y500i

Next Post

Mitsubishi Electric Dorong Otomasi Manufaktur Nasional

Next Post
mitsubishi-electric-dorong-otomasi-manufaktur-nasional

Mitsubishi Electric Dorong Otomasi Manufaktur Nasional

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PARIWARA

bpr-penataran-transformasi-layanan-top-bumd-awards-2026

Kesuksesan Transformasi BPR Penataran Pukau Juri TOP BUMD Awards 2026

22 Januari 2026 | 15:00
rsud-sambas-transformasi-layanan-kesehatan-top-bumd-awards-2026

RSUD Sambas Paparkan Transformasi Layanan Kesehatan di TOP BUMD Awards 2026

14 Januari 2026 | 22:00
Transformasi Digital Konsisten, Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

Transformasi Digital Konsisten, Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

22 Desember 2025 | 17:00
Perumda Air Minum Kota Padang TOP Digital Awards 2025

Mengalirkan Inovasi, Menyemai Layanan: Perumda Air Minum Kota Padang Kembali Raih TOP Digital Awards

5 Desember 2025 | 09:00
Pacu Transformasi Digital Nasional, Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan TOP Digital Awards

Pacu Transformasi Digital Nasional, Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan TOP Digital Awards

5 Desember 2025 | 08:00
RSUI Raih Penghargaan TOP Digital Awards

Perkuat Transformasi Digital untuk Tingkatkan Mutu Layanan, RSUI Raih Penghargaan TOP Digital Awards

5 Desember 2025 | 07:00

POPULER

total-hadiah-esports-world-cup-2026-capai-75-juta-usd

Gila! Total Hadiah EWC 2026 Capai Rp 1,2 Triliun

22 Januari 2026 | 13:00
Logo X

Twitter Berubah Jadi X di App Store

2 Agustus 2023 | 08:00
Dulux Rilis Colours of The Year 2026, Angkat ‘Rhythm of Blues™’ sebagai Simbol Ketenangan Ruang

Dulux Rilis Colours of The Year 2026, Angkat ‘Rhythm of Blues™’ sebagai Simbol Ketenangan Ruang

26 Januari 2026 | 20:22
Profil Siti Sarah, Istri Pertama Nabi Ibrahim AS

Profil Siti Sarah, Istri Pertama Nabi Ibrahim AS

11 Februari 2025 | 18:19
Viral Susu MBG Hanya 30 Persen Susu, Ini Kata BGN

Viral Susu MBG Hanya 30 Persen Susu, Ini Kata BGN

1 Oktober 2025 | 14:56
Penyelidikan terhadap Zhang disebut berkaitan dengan Gu Jun, mantan manajer China National Nuclear Corporation, lembaga yang mengawasi program nuklir sipil dan militer Cina. Gu dilaporkan menjadi pihak yang menyerahkan bukti terhadap Zhang dan kini turut diselidiki dalam kasus korupsi besar-besaran di industri pertahanan dan nuklir. Kasus ini mencuat di tengah upaya Cina mempercepat perluasan arsenal nuklirnya

Jenderal Senior Cina Dipecat Karena Bocorkan Rahasia Nuklir ke AS

26 Januari 2026 | 14:15
  • Redaksi Corenews.id
  • Pedoman Media Siber
  • Email Login

Corenews.id | All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • News
    • Nasional
    • Internasional
    • Metropolitan
    • Daerah
  • Politik
    • Pemilu
  • Hukum
  • Pariwara
  • Bisnis
    • Keuangan
    • Ekonomi
    • Properti
    • Pasar Modal
  • Tekno
  • Gaya Hidup
  • Humaniora
  • Olah Raga
  • Tokoh
  • Opini

Corenews.id | All Rights Reserved