Jakarta, CoreNews.id — Sawah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terdampak bencana banjir berdasarkan pendataan per 13 Januari 2026 mencapai 107.324 hektare. Dari jumlah tersebut, sawah rusak ringan tercatat seluas 56.077 hektare, rusak sedang 22.152 hektare, dan rusak berat 29.095 hektare. Kerusakan tersebut menyebabkan lahan padi dan jagung yang mengalami puso atau gagal panen mencapai sekitar 44,6 ribu hektare. Skala kerusakan sawah di Sumatera tersebut, menuntut respons cepat dan terukur dari pemerintah pusat.
Hal tersebut disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, (15/1/2026). Menurut Amran, Kementan telah menyiapkan anggaran Rp 1,49 triliun dari APBN 2026 serta mengajukan tambahan anggaran Rp 5,1 triliun untuk mempercepat pemulihan pertanian di tiga provinsi terdampak.
Sebagai informasi, kerusakan akibat bencana tidak hanya terjadi pada sawah. Lahan perkebunan non-sawit seperti kopi, kakao, dan kelapa dalam terdampak seluas 29.310 hektare, lahan hortikultura rusak 1.803 hektare, dan lebih dari 820 ribu ekor ternak tercatat mati atau hilang. Sementara itu, kerusakan infrastruktur pertanian, meliputi 58 unit rumah potong hewan, sekitar 2.300 unit alat dan mesin pertanian hilang, 74 Balai Penyuluhan Pertanian rusak, tiga bendungan terdampak, jaringan irigasi rusak sepanjang 152 kilometer, serta 820 unit jalan produksi terganggu.*












