Jakarta, CoreNews.id – Kematian adalah kepastian yang akan dialami setiap manusia. Namun, dalam Islam, cara seseorang menghadapinya—terutama di detik-detik terakhir hidupnya—diyakini menyimpan banyak pesan spiritual. Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya Ihya Ulumiddin menguraikan sejumlah tanda yang dapat dikenali pada orang-orang yang dicintai Allah saat menghadapi sakaratul maut.
Menurut Al-Ghazali, salah satu tanda utama adalah ketenangan. Wajahnya tampak damai, lisannya lembut, dan hatinya penuh harap kepada rahmat Allah SWT. Ia tidak gelisah, tidak memberontak, tetapi justru diam dalam kepasrahan.
“Tanda orang yang dicintai Allah ketika menjelang wafat adalah ketenangan lahir dan batin, lisannya mengucapkan syahadat, dan hatinya berbaik sangka kepada Allah,” tulis Imam Al-Ghazali.
Tiga Tanda Rahmat di Detik Terakhir
Nabi Muhammad SAW juga menjelaskan ciri-ciri tertentu yang menunjukkan seseorang sedang berada dalam rahmat Allah saat meninggal. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Al-Hakim, Rasulullah SAW bersabda:
“Perhatikanlah orang mati pada tiga hal: jika dahinya berpeluh, matanya berlinang air mata, dan bibirnya mengering, maka itu termasuk rahmat Allah yang turun kepadanya.”
Tiga tanda ini bukan sekadar fenomena fisik, melainkan diyakini sebagai isyarat kelembutan Allah dalam menjemput hamba-Nya. Sebaliknya, Rasulullah juga mengingatkan adanya tanda-tanda kesulitan dan azab, seperti napas tersengal, warna wajah memerah, serta bibir membiru.
Syahadat, Penutup Terindah Kehidupan
Tanda kebaikan lainnya adalah lancarnya seseorang mengucapkan kalimat tauhid di akhir hayatnya. Rasulullah SAW bersabda:
“Ajarkanlah orang yang hampir mati di antara kalian dengan kalimat La ilaha illallah.” (HR Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan, kalimat tersebut dapat menghapus dosa-dosa sebelumnya. Utsman bin Affan radhiyallahu anhu bahkan menyebut bahwa siapa pun yang wafat dengan kalimat tauhid, maka itu menjadi bekalnya menuju surga.
Namun, para ulama mengingatkan bahwa proses talqin harus dilakukan dengan kelembutan. Jangan memaksa, jangan mengintimidasi. Sebab, dalam kondisi sakaratul maut, seseorang berada dalam keadaan sangat lemah, baik fisik maupun psikis.
“Talqin bukan tekanan, melainkan penghiburan,” pesan para ulama.
Jika dipaksakan, dikhawatirkan justru menimbulkan penolakan dalam hati orang yang sedang sekarat—dan ini bisa berdampak buruk pada akhir hidupnya.
Husnuzan: Kunci Ketenangan di Ujung Usia
Selain syahadat, hal paling penting yang dianjurkan saat sakaratul maut adalah berbaik sangka kepada Allah SWT. Kisah Wa’ilah bin Al-Asqa menjadi pelajaran berharga.
Saat menjenguk orang sakit, ia bertanya, “Bagaimana sangkaanmu kepada Allah?” Orang itu menjawab, “Dosaku banyak, tetapi aku berharap rahmat Rabbku.”
Mendengar itu, Wa’ilah bertakbir dan berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Allah berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” (HR Ibnu Hibban)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa Allah bukan hanya Maha Adil, tetapi juga Maha Pengasih. Harapan kepada-Nya tidak pernah sia-sia.
Bekal untuk Kita yang Masih Hidup
Tanda-tanda ini sejatinya bukan hanya untuk dikenali, tetapi untuk dipersiapkan. Sebab, kematian tidak menunggu usia tua, tidak menunggu kesiapan, dan tidak bisa ditunda.
Mempersiapkan diri untuk husnul khatimah berarti membiasakan hati untuk husnuzan, melatih lisan dengan dzikir, dan menjaga amal agar tetap ikhlas.
Kematian bukan akhir dari segalanya, melainkan pintu menuju kehidupan yang lebih abadi. Dan seindah-indahnya penutup hidup adalah ketika seorang hamba pulang dalam keadaan dicintai oleh Tuhannya.













