Jakarta, CoreNews.id – Pemerintah memasang target tinggi: investasi baru sebesar Rp 2.100 triliun pada 2026. Angka ini bukan sekadar ambisi, tetapi juga cerminan arah pembangunan ekonomi Indonesia yang semakin menekankan keberlanjutan dan transformasi digital.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menyebut, sektor energi baru dan terbarukan (EBT) menjadi tumpuan utama. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Dunia sedang bergerak menuju ekonomi rendah karbon, dan Indonesia memiliki modal alam yang sangat besar.
“Kita ingin mendorong salah satunya yang kita lihat potensinya sangat besar dan appetite-nya dari investor dalam dan luar negeri juga sangat tinggi adalah dari energi baru terbarukan,” ujar Rosan, dikutip dari pemberitaan sejumlah media nasional, 18/1/2026.
Indonesia memiliki potensi EBT hingga 3.700 gigawatt, namun kapasitas terpasangnya baru sekitar 15,1 gigawatt. Artinya, ruang pertumbuhan masih sangat luas. Inilah yang membuat investor melihat Indonesia bukan hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai pusat produksi energi hijau di masa depan.
Salah satu subsektor yang paling diminati adalah panas bumi atau geothermal. Jepang menjadi salah satu negara yang aktif berinvestasi di bidang ini. Proyek geothermal di Aceh senilai sekitar US$ 900 juta, misalnya, sudah mencapai tahap financial closing dan akan segera dibangun.
Jika dikelola optimal, geothermal bukan hanya menyediakan listrik bersih, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, mendorong transfer teknologi, dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Selain energi, pemerintah juga mengincar sektor ekonomi digital, khususnya pembangunan pusat data atau data center. Lonjakan penggunaan internet, kecerdasan buatan, hingga komputasi awan membuat kebutuhan data center terus meningkat.
“Kita sudah bertemu dengan para hyperscaler. Sebelumnya mereka banyak masuk ke Johor dan Thailand, tapi sejak tahun lalu kita sudah intensif berbicara,” kata Rosan.
Masuknya investasi data center bukan hanya soal infrastruktur digital, tetapi juga soal posisi Indonesia dalam peta ekonomi digital global. Semakin banyak data center, semakin kuat pula ekosistem startup, e-commerce, dan layanan digital dalam negeri.
Sektor lain yang menarik perhatian adalah waste to energy, yakni pengolahan sampah menjadi listrik. Di tengah persoalan sampah yang kian kompleks, sektor ini menawarkan solusi ganda: mengatasi limbah sekaligus menghasilkan energi.
Tender proyek-proyek waste to energy kini mulai berjalan dan mendapat respons positif dari investor. Jika berhasil, sektor ini bisa menjadi contoh bagaimana masalah perkotaan diubah menjadi peluang ekonomi.
Rosan menegaskan, pemerintah tidak hanya mengejar angka, tetapi juga kualitas investasi.
“Kita ingin investasi yang masuk benar-benar berkelanjutan, berdampak positif, dengan standar operasional dan teknologi yang semakin baik,” ujarnya.
Dengan fokus pada energi bersih, digitalisasi, dan pengelolaan lingkungan, target Rp 2.100 triliun bukan sekadar soal nilai, tetapi tentang arah baru ekonomi Indonesia: lebih hijau, lebih modern, dan lebih kompetitif.












