Jakarta, CoreNews.id – Banyak pendiri startup (founder) terjebak melihat fungsi keuangan sekadar sebagai urusan administrasi belakang. Padahal, inilah “senjata” strategis utama untuk mengambil keputusan tepat, menarik investor, dan menghindari kegagalan.
Hal itu mengemuka dalam webinar terbaru Salamander Advisory bertajuk “Finance Packages: What Founders Get Wrong (and How to Fix It)” yang dipandu Florian Loloum, Senior Associate Salamander Advisory, Selasa, 8/1/2026.

Sesi ini mengupas tuntas cara investor menilai paket keuangan secara praktis, titik rawan dalam due diligence, dan persiapan krusial yang sering terlewatkan founder sebelum fundraising. Berikut sejumlah kiat yang dibagikan:
1. Cash is King: Jangan Sampai Tertipu “Revenue”
Loloum menekankan, kesalahan paling klasik adalah menyamakan pendapatan (revenue) dengan kas. Kontrak besar bisa menaikkan valuasi, namun justru membebani arus kas jika termin pembayaran panjang.
“Profit itu konsep. Kas adalah kenyataan. Banyak startup gagal karena kas tak dikelola baik, bukan karena ide buruk,” tegasnya.
Ia menyarankan founder selalu memantau tiga hal: posisi kas di bank, burn rate bulanan (prioritas: pajak, utang, gaji), dan runway. “Proyeksi kas 13 minggu jadi alat vital untuk antisipasi masalah. Perbaiki siklus kas dengan menagih lebih cepat dan negosiasi termin lebih pendek,” ujarnya.
2. Unit Economics: Tolok Ukur Profitabilitas Sejati
Di era dimana investor kini lebih fokus pada profitabilitas, pemahaman mendalam tentang unit economics (UE) menjadi kunci. “Strategi rugi per pelanggan demi pertumbuhan volume sudah usang. UE harus dipahami sejak dini,” kata Loloum.
Founder wajib mengidentifikasi 6-10 metrik kunci sesuai model bisnis, seperti Customer Acquisition Cost (CAC), Lifetime Value (LTV), dan payback period. “Setiap keputusan investasi—dari marketing, event, hingga waktu tim—harus dievaluasi dampaknya pada UE. Ini membangun disiplin dan kejelasan menuju profit,” jelasnya.
3. Hindari “Overbuilding” dan Fundraising Emosional
Kesalahan strategis lain adalah membangun terlalu cepat: merekrut eksekutif senior sebelum product-market fit, membentuk tim tech besar tanpa roadmap jelas, atau terikat biaya tetap jangka panjang (sewa kantor mahal, kontrak vendor kaku).
“Biaya tetap kurangi fleksibilitas. Sebelum menambah biaya tetap, tanya: masalah apa yang mau diselesaikan dalam 90 hari ke depan?” sarannya.
Soal fundraising, ia mengingatkan untuk memperlakukannya sebagai langkah strategis, bukan reaksi panik. “Dana untuk capai milestone, bukan sekadar bertahan. Galang dana saat posisi aman, secukupnya. Terlambat, tekanan tinggi. Terlalu awal, menyebabkan dilusi tak perlu,” papar Loloum.
4. Kelola Risiko dengan Skenario dan Tata Kelola
Risiko harus dinilai rutin setiap kuartal. Pertanyaan kuncinya: “Apa yang secara realistis bisa membuat perusahaan kolaps dalam 12 bulan ke depan?”
Risiko bisa berasal dari ketergantungan pada sedikit pelanggan, satu platform, regulasi, hingga kehilangan talenta kunci. “Fungsi keuangan harus mengukur risiko dan siapkan penyangga, seperti tambahan runway, dana cadangan, dan perencanaan skenario (optimis, moderat, terburuk). Harapan mendorong maju, tapi perencanaan yang jaga perusahaan tetap bertahan,” tuturnya.
Dukungan Konkret untuk Founder
Salamander Advisory menawarkan layanan pendampingan bagi startup dan scale-up, meliputi dukungan fundraising (persiapan materi, pendampingan, due diligence), penyusunan tata kelola & alat keuangan, serta dukungan keuangan operasional dengan penempatan profesional.
“Peran kami beradaptasi bersama founder di setiap tahap pertumbuhan, memastikan eksekusi strategi keuangan berjalan solid,” pungkas Florian Loloum.













