Jakarta, CoreNews.id — Pembayaran gabah ke depan direncanakan menggunakan sistem digital agar lebih aman, cepat, dan transparan. Skema ini tengah dibahas Perum Bulog bersama Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Dalam skema ini, petani akan memiliki rekening bank untuk menerima pembayaran secara langsung tanpa transaksi tunai. Tujuannya untuk mengantisipasi potensi penyimpangan dan mengurangi risiko keamanan, baik bagi petani maupun petugas Bulog di lapangan.
Hal tersebut disampaian Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani di Jakarta, (23/1/2026). Menurut Rizal, selama ini pembayaran tunai dinilai berisiko karena nilai transaksi penyerapan gabah relatif besar, terutama pada musim panen dengan volume tinggi. Pada kondisi tertentu, petugas Bulog harus membawa dana dalam jumlah besar ke lokasi penyerapan, sehingga rawan dari sisi keselamatan dan akuntabilitas.
Bulog kini akan melakukan sosialisasi sebelum skema pembayaran digital diterapkan secara penuh. Sosialisasi akan menyasar petani, penyuluh pertanian lapangan, serta aparat pendamping di daerah. Hal ini karena Bulog pada tahun 2026 ditugaskan pemerintah untuk menyerap beras hingga 4 juta ton, naik dibandingkan target 2025 yang sebesar 3 juta ton.*













