Jakarta, CoreNews.id – Di tengah musik modern yang membanjiri Kota Jakarta, Gambang Kromong tetap bertahan sebagai salah satu warisan budaya khas Betawi. Kesenian ini menjadi simbol akulturasi budaya yang telah hidup ratusan tahun di Jakarta dan sekitarnya.
Gambang Kromong merupakan perpaduan budaya Betawi dan Tionghoa. Nama “Gambang” diambil dari alat musik bilah kayu, sementara “Kromong” merujuk pada seperangkat gong kecil dari perunggu. Dalam pertunjukannya, musik ini juga dilengkapi alat lain seperti sukong, tehyan, gong, kendang, hingga kecrek.
Iramanya dikenal dinamis dan ceria, dimainkan dalam berbagai acara seperti pernikahan, khitanan, hingga perayaan adat. Lagu-lagunya pun beragam, mulai dari lagu klasik Betawi seperti “Jali-Jali” hingga komposisi baru yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Gambang kromong bukan sekadar hiburan, melainkan identitas budaya. Namun, tantangan terbesar saat ini adalah regenerasi pemain. Tidak banyak anak muda yang tertarik mempelajari alat musik tradisional karena dianggap kurang populer dibanding musik modern. Sejumlah komunitas dan sanggar seni terus berupaya menjaga eksistensi gambang kromong
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga telah menetapkan gambang kromong sebagai bagian dari warisan budaya tak benda yang harus dilestarikan.

Grup musik Gambang Kromong terdiri dari beberapa alat musik yang mencerminkan perpaduan budaya:
1. Gambang – Alat musik bilah kayu yang dipukul dengan pemukul khusus.
2. Kromong – Gong kecil yang disusun dalam satu set dan dimainkan dengan stik kayu.
3. Suling – Seruling bambu yang memberikan warna melodi khas.
4. Rebab – Alat musik gesek yang menambah nuansa khas Melayu.
5. Gendang – Kendang Betawi yang memberikan ritme utama.
6. Kecrek – Alat musik perkusi yang berfungsi sebagai pengatur tempo.













