Jakarta, CoreNews.id – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menyoroti fenomena ketimpangan dalam pemulihan ekonomi nasional. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, mengungkapkan bahwa likuiditas perbankan saat ini cenderung menumpuk di kelompok masyarakat kelas atas, sementara kelas menengah bawah masih berjuang memulihkan daya beli.
Dalam Webinar Economic Outlook 2026, Kamis (19/2/2026), Hery menjelaskan bahwa akselerasi pertumbuhan ekonomi 2025 lebih banyak ditopang oleh segmen premium. Hal ini tercermin dari sektor properti dan kredit korporasi yang tetap resilien. Namun, di sisi lain, indeks daya beli kelompok menengah dan bawah masih berada di bawah level sebelum pandemi 2019.
“Pemulihan likuiditas rumah tangga terjadi, tetapi terkonsentrasi di kelompok dengan saldo tinggi. Sementara di segmen menengah bawah, tabungan cenderung stagnan karena masyarakat lebih berhati-hati dalam belanja,” ujar Hery.
Ia menambahkan, konsumsi kelas menengah bawah masih sangat sensitif terhadap fluktuasi harga pangan dan biaya hidup. Hal ini turut mempengaruhi penjualan barang-barang seperti kendaraan bermotor yang masih fluktuatif.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi industri perbankan. Meskipun likuiditas melimpah di sistem, transmisi ke sektor riil khususnya kredit mikro dan konsumsi masyarakat belum optimal. Hery menekankan pentingnya pendekatan yang terkalibrasi dalam menyalurkan kredit agar kualitas pembiayaan tetap terjaga.
“Fondasi permintaan sebenarnya ada, tetapi momentumnya masih selektif. Bank harus cermat membaca dinamika pasar agar ekspansi kredit tetap berkualitas,” pungkasnya.













