Jakarta, CoreNews.id — Konflik Amerika Serikat–Iran yang mengganggu pasokan Qatar, sehingga membuat harga gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) di Asia melonjak. Menurut data perusahaan analitik Kpler, pembeli Asia menyerap lebih dari 80 persen ekspor LNG Qatar. Kondisi ini membuka peluang arbitrase bagi para pedagang untuk mengalihkan kargo dari kawasan Atlantik ke Asia guna menutup kekurangan pasokan.
Menurut Analis Spark Commodities Qasim Afghan dalam catatan pada Selasa (3/3/2026), arbitrase front month global kini terbuka ke Asia dari sejumlah lokasi ekspor utama, termasuk dari Amerika Serikat dan Norwegia. Selisih harga antara Japan-Korea LNG Marker (JKM) dan Dutch Title Transfer Facility (TTF) juga meningkat sekitar US$5 per million British thermal units (mmBtu), sehingga membuat pasar Asia lebih menarik.
Kenaikan harga LNG juga terlihat pada acuan Japan-Korea LNG Marker (JKM) dari Platts yang melonjak 68,52 persen menjadi US$25,393 per mmBtu untuk pengiriman April pada Selasa (3 Maret 2026). Sebagai perbandingan, harga LNG spot yang dikirim ke Eropa Barat Laut untuk pengiriman April naik 57 persen atau US$5,60 menjadi US$15,479 per mmBtu pada 2 Maret, yang menjadi kenaikan harian terbesar sejak 2022. Pada hari yang sama, TotalEnergies menjual satu kargo LNG kepada Glencore melalui platform Market on Close (MOC) milik Platts dengan harga US$24,15 per mmBtu untuk pengiriman 8–10 April dengan tujuan dasar PipeChina Tianjin di Cina.*













