Jakarta, CoreNews.id – Nilai tukar rupiah masih berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat, 6 Maret 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka turun 0,09 persen ke posisi Rp16.920 per dolar AS.
Sebelumnya pada penutupan perdagangan Kamis, 5 Maret 2026, rupiah juga melemah 0,08 persen dan berada di level Rp16.905 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi penguatan dolar AS di pasar global.
Analis Pasar Uang Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Iran dilaporkan mengancam akan membalas tindakan Amerika Serikat yang menenggelamkan kapal perang miliknya, sementara AS disebut akan mengerahkan pasukan darat untuk menyerang Iran.
“Hari ini, rupiah diperkirakan kembali melemah terhadap dolar AS yang menguat oleh memanasnya situasi di Timur Tengah,” kata Lukman, Jumat.
Selain faktor geopolitik, lonjakan harga minyak dunia juga memberi tekanan pada rupiah. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sempat menembus USD80 per barel, sementara minyak Brent naik hampir 5 persen dan ditutup di level USD85,41 per barel.













