Jakarta, CoreNews.id – Lonjakan aktivitas digital menjelang Lebaran 2026 mulai memberi tekanan besar pada sistem teknologi informasi (TI) perusahaan di Indonesia. Peningkatan transaksi yang terjadi dalam waktu singkat membuat beban trafik melonjak tajam dan sulit diprediksi secara real-time.
Berdasarkan keterangan resmi ManageEngine, transaksi digital di Indonesia naik hingga 133 persen pada Februari 2026. Kenaikan ini didorong tingginya permintaan dari sektor e-commerce, perbankan digital, hingga layanan perjalanan dan on-demand.
Lonjakan tersebut mengubah pola transaksi yang sebelumnya tersebar dalam beberapa minggu menjadi terpusat hanya dalam hitungan hari. Kondisi ini memaksa sistem TI untuk mampu menahan beban trafik tinggi secara bersamaan.
Technical Manager ManageEngine, Hanief Bastian, menilai periode menjelang Lebaran menjadi momen krusial bagi operasional bisnis.
“Tanpa visibilitas penuh terhadap lingkungan TI, tim akan kesulitan mendeteksi anomali secara cepat dan mencegah gangguan layanan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (21/3/2026).
Ia menambahkan, risiko seperti kegagalan transaksi, lambatnya respons sistem, hingga gangguan layanan dapat berdampak langsung pada pendapatan dan kepercayaan pelanggan. Bahkan, downtime singkat sekalipun berpotensi menimbulkan kerugian serta merusak reputasi dalam jangka panjang.
Di sisi lain, kompleksitas infrastruktur TI yang semakin tinggi turut menjadi tantangan tersendiri. Banyak perusahaan kini mengadopsi sistem hybrid yang menggabungkan server internal, multi-cloud, dan perangkat terdistribusi.
Meski menawarkan fleksibilitas dan skalabilitas, arsitektur ini kerap menyulitkan pemantauan lintas sistem secara menyeluruh. Tanpa pengawasan terintegrasi, gangguan seperti latensi API, hambatan pada database, hingga lonjakan trafik tidak wajar berisiko terlambat terdeteksi.
Menghadapi kondisi tersebut, perusahaan mulai mengubah pendekatan operasional TI dari reaktif menjadi lebih proaktif. Langkah yang dilakukan antara lain meningkatkan visibilitas sistem end-to-end, memanfaatkan analitik untuk deteksi dini gangguan, serta menggunakan otomasi guna mempercepat respons dan meningkatkan efisiensi.
Selain itu, performa sistem TI kini semakin dikaitkan dengan pengalaman pengguna, sehingga dampak gangguan dapat ditekan saat terjadi lonjakan trafik.
Periode menjelang Lebaran pun dinilai sebagai ujian nyata ketahanan digital perusahaan. Perusahaan yang mampu menjaga stabilitas sistem berpeluang memperkuat kepercayaan pelanggan, sementara yang tidak siap berisiko kehilangan potensi pendapatan.
Seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia, kebutuhan akan sistem TI yang andal diperkirakan akan terus meningkat. Kesiapan infrastruktur TI kini tak lagi sekadar aspek teknis, melainkan menjadi bagian penting dari strategi bisnis jangka panjang.













