Jakarta, CoreNews.id – Penyaluran kredit perbankan di Indonesia menunjukkan perlambatan pada Februari 2026, meskipun masih berada dalam level yang relatif tinggi. Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit sebesar 9,37% secara tahunan, turun dari Januari 2026 yang mencapai 9,96%.
Perlambatan ini terjadi merata di seluruh segmen kredit, baik investasi, modal kerja, maupun konsumsi.
Berdasarkan data BI, kredit investasi tumbuh 20,72% secara tahunan pada Februari 2026, melambat dari Januari yang mencapai 22,38%. Kredit modal kerja tercatat tumbuh 3,88% (dari 4,13%), sementara kredit konsumsi naik 6,34% (dari 6,58%).
Daya Beli Melemah Jadi Pemicu Utama
Pengamat perbankan sekaligus Senior Vice President LPPI, Trioksa Siahaan, menilai perlambatan ini dipicu oleh lemahnya daya beli masyarakat.
Menurutnya, 23/3/2026, permintaan kredit tertahan karena pelaku usaha maupun konsumen masih menahan ekspansi. Faktor lain yang turut memengaruhi antara lain:
- Pertumbuhan ekonomi yang belum optimal
- Ancaman inflasi di awal tahun
- Suku bunga yang masih relatif tinggi
- Ketidakpastian geopolitik global
Kondisi ini membuat permintaan kredit belum pulih sepenuhnya.
Bank Lebih Selektif Salurkan Kredit
Di sisi lain, Direktur Sagara Research Institute, Piter Abdullah, menilai perbankan kini lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit.
Meski likuiditas tergolong memadai, bank cenderung memperketat penyaluran untuk menghindari risiko kredit macet di tengah ketidakpastian ekonomi.
Sikap wait and see ini turut menahan laju pertumbuhan kredit secara keseluruhan.
Kinerja Sejumlah Bank Mulai Tertekan
Perlambatan kredit juga tercermin dari kinerja beberapa bank besar:
- BCA: Kredit tumbuh 5,84% yoy (turun dari 6,26%) menjadi Rp 953,22 triliun
- BTN: Kredit naik 8,6% yoy (turun dari 9,30%) menjadi Rp 341,16 triliun
- Bank Mandiri: Relatif stabil di 15,7% yoy
- CIMB Niaga: Pertumbuhan cenderung datar, terutama di segmen non-ritel
Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengungkapkan bahwa permintaan kredit di awal tahun masih lesu, terutama di luar sektor ritel.
Namun, kredit kendaraan bermotor masih mencatat pertumbuhan sekitar 6% secara tahunan, menjadi salah satu penopang terbatas.
Kuartal I Diprediksi Masih Lesu
CIMB Niaga memperkirakan pertumbuhan kredit pada kuartal I 2026 masih akan terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan permintaan kredit belum terjadi secara signifikan.
Data Januari 2026 mencatat total pembiayaan CIMB Niaga sebesar Rp 217,79 triliun, hanya tumbuh 1,44% yoy.
BI Tetap Optimistis Kredit Tumbuh 8%-12%
Meski melambat, Bank Indonesia tetap optimistis pertumbuhan kredit sepanjang 2026 akan berada di kisaran 8%-12%.
Optimisme ini didukung oleh:
- Undisbursed loan yang masih besar (Rp 2.536,40 triliun)
- Likuiditas perbankan yang kuat (AL/DPK 27,40%)
- Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 13,18%
Namun, BI mencatat adanya pengetatan pada segmen konsumsi dan UMKM akibat risiko kredit yang masih tinggi.
Waspada, Tapi Belum Krisis
Perlambatan kredit di awal 2026 lebih mencerminkan fase kehati-hatian dibandingkan sinyal krisis. Kombinasi antara permintaan yang melemah dan strategi defensif bank menjadi faktor utama.
Ke depan, pemulihan daya beli dan stabilitas ekonomi global akan menjadi kunci untuk mengembalikan momentum pertumbuhan kredit.













