Jakarta, CoreNews.id – Langkah berani terus ditunjukkan oleh emiten energi terintegrasi, PT TBS Energi Utama Tbk (IDX: TOBA). Kali ini, perseroan resmi meluncurkan Climate Transition Plan (CTP) sebagai peta jalan menuju target ambisius: netral karbon pada 2030.
Rencana strategis yang diluncurkan sejak November 2025 lalu ini bukan sekadar wacana. TBS menggandeng Bank DBS Indonesia sebagai mitra keuangan utama yang memfasilitasi pendanaan berkelanjutan. Nilainya fantastis, mencapai US$600 juta atau sekitar Rp9,6 triliun.
Tinggalkan Batu Bara, Beralih ke Tiga Pilar Hijau
Climate Transition Plan TBS merupakan evolusi dari strategi TBS2030 yang dicanangkan pada 2022. Bedanya, kali ini peta jalan dekarbonisasi disusun lebih komprehensif, mengacu pada standar internasional European Sustainability Reporting Standards (ESRS) E1 – Climate Change.
Langkah paling dramatis adalah komitmen TBS untuk menghentikan operasional penambangan batu bara pada 2027. Sebelumnya, pada 2024, perseroan telah mendivestasi dua anak usaha pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara yang menyumbang sekitar 86 persen total emisi operasional.
“Climate Transition Plan TBS merupakan komitmen nyata dan panduan strategis menuju dekarbonisasi yang kredibel. Keberlanjutan bukan pelengkap bisnis TBS, melainkan inti dari strategi pertumbuhan jangka panjang perusahaan,” ujar Juli Oktarina, Direktur PT TBS Energi Utama Tbk, dalam keterangan resmi, Rabu (1/4/2026).
TBS kini memfokuskan diri pada tiga pilar bisnis rendah karbon:
- Pengelolaan limbah (melalui akuisisi AMES, ARAH, dan Cora Environment di Singapura)
- Energi terbarukan (PLTS terapung 46 MWp di Batam dan PLTM mini-hidro di Lampung)
- Mobilitas listrik (Electrum dengan 7.500+ unit motor listrik dan 360+ stasiun tukar baterai)
Targetnya, pada 2030 hampir 80 persen pendapatan perusahaan berasal dari sektor non-batu bara. Padahal di 2022, hampir seluruh pendapatan TBS masih dari fosil.
Bank DBS: Bukan Sekadar Kucuran Dana
Peran Bank DBS Indonesia dalam kolaborasi ini tidak hanya sebagai penyedia modal. Mereka juga mendampingi TBS secara strategis dalam menyusun CTP yang kredibel dan terukur.
Sebelumnya, Bank DBS Indonesia juga telah memfasilitasi blended finance senilai US$15 juta untuk Electrum, platform kendaraan listrik TBS. Ini merupakan pendanaan bersama pertama di Indonesia untuk sektor transportasi berkelanjutan.
“Bank DBS Indonesia mendukung TBS tidak hanya melalui solusi pembiayaan transisi, tetapi juga pendampingan strategis. Kami merumuskan peta jalan dekarbonisasi yang selaras dengan strategi bisnis jangka panjang TBS,” jelas Anthonius Sehonamin, Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia.
Dia menambahkan, transisi menuju ekonomi rendah karbon adalah peluang strategis untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi jangka panjang Indonesia.
Transparansi Global dan Dampak Nyata
Yang tak kalah penting, TBS juga telah melaporkan emisi Scope 1 dan 2 yang mendapatkan jaminan terbatas (limited assurance) dari pihak ketiga sesuai standar ISO 14064 dan regulasi OJK. Artinya, data dekarbonisasi TBS tidak sekadar klaim, tapi terverifikasi.
Dengan divestasi PLTU, penghentian tambang batu bara di 2027, dan investasi besar-besaran di sektor hijau, TBS optimistis bisa mencapai netral karbon di 2030. Target ini 30 tahun lebih cepat dari target Net Zero Indonesia 2060.
Kolaborasi TBS dan Bank DBS Indonesia menjadi bukti bahwa sektor swasta dan perbankan bisa bergerak cepat untuk masa depan yang lebih bersih.













