Jakarta, CoreNews.id – Misi NASA Artemis II mencatat tonggak bersejarah setelah empat astronautnya memasuki pengaruh gravitasi Bulan pada Senin (6/4), sekaligus menandai perjalanan manusia terjauh dari Bumi dalam sejarah penerbangan antariksa.
Kru Artemis II yang terdiri atas Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, serta astronaut Kanada Jeremy Hansen, meluncur menggunakan kapsul Orion dari Florida pekan lalu. Mereka dijadwalkan mencapai jarak maksimum sekitar 252.757 mil dari Bumi, melampaui rekor yang sebelumnya dipegang kru Apollo 13 selama lebih dari lima dekade.
Dalam misinya, para astronaut akan melintasi sisi jauh Bulan pada ketinggian sekitar 4.000 mil di atas permukaan. Dari titik tersebut, Bumi akan tampak kecil di kejauhan, memberikan perspektif baru tentang planet asal manusia.
Tonggak penting program Artemis
Misi Artemis II merupakan uji coba berawak pertama dalam program Artemis, proyek ambisius NASA bernilai miliaran dolar yang bertujuan mengembalikan manusia ke permukaan Bulan sebelum 2028.
Selain itu, program ini juga menjadi fondasi bagi eksplorasi lebih jauh, termasuk rencana pembangunan pangkalan di Bulan sebagai pusat penelitian dan persiapan misi ke Mars.
Misi ini berlangsung hampir 10 hari dan menjadi langkah penting dalam menguji sistem penerbangan serta kesiapan manusia untuk eksplorasi luar angkasa jangka panjang.
Flyby Bulan dan gangguan komunikasi
Manuver melintasi Bulan (lunar flyby) dimulai pada pukul 14.34 waktu setempat. Pada fase ini, kru akan memasuki sisi gelap Bulan yang menyebabkan gangguan komunikasi sementara dengan Bumi.
Gangguan tersebut terjadi karena posisi Bulan menghalangi sinyal komunikasi dengan jaringan Deep Space Network milik NASA. Selama sekitar enam jam, astronaut akan berada dalam kondisi minim komunikasi sambil tetap menjalankan berbagai tugas ilmiah.
Pengamatan ilmiah dan fenomena langka
Selama flyby, kru Artemis II akan melakukan pengamatan ilmiah menggunakan kamera profesional untuk menangkap gambar detail Bulan dari sudut pandang yang jarang terlihat.
Mereka juga akan merekam fenomena cahaya Matahari yang menyinari tepi Bulan, menciptakan efek menyerupai gerhana dari perspektif luar angkasa. Selain itu, momen “Bumi terbit” dari cakrawala Bulan menjadi salah satu fenomena yang diantisipasi.
Tim ilmuwan di Johnson Space Center, Houston, akan memantau seluruh aktivitas tersebut secara langsung, sementara para astronaut telah menjalani pelatihan intensif untuk memastikan akurasi pengamatan.
Langkah menuju eksplorasi masa depan
Keberhasilan Artemis II menjadi pijakan penting bagi masa depan eksplorasi antariksa. Pencapaian ini membawa NASA semakin dekat pada target kembali ke Bulan sekaligus membuka peluang eksplorasi manusia ke Mars.
Misi ini tidak hanya mencetak rekor baru, tetapi juga memperluas batas kemampuan manusia dalam menjelajahi ruang angkasa serta mendukung pengembangan teknologi untuk generasi mendatang.













