Jakarta, CoreNews.id – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) tak hanya mengubah cara orang bekerja, tapi juga mengacak-acak peta bisnis global. OutSystems, perusahaan pengembang platform low-code berbasis AI, membeberkan prediksi mereka soal arah penggunaan AI di dunia usaha pada 2026.
Dari ancaman shadow AI, munculnya sistem agentik yang makin cerdas, hingga pergeseran peran developer, semuanya disebut bakal menjadi penentu masa depan software enterprise.
Shadow AI Jadi Ancaman Baru
CEO OutSystems, Woodson Martin, memperingatkan bahwa shadow AI berpotensi menjadi masalah yang jauh lebih berbahaya dibandingkan fenomena shadow IT di masa lalu.
Jika sebelumnya penggunaan aplikasi tanpa izin hanya dianggap gangguan teknis, kini risikonya jauh lebih besar. Pasalnya, pengguna non-teknis kini bisa memanfaatkan Large Language Models (LLM) untuk membuat kode produksi, membangun alur kerja otomatis, bahkan menjalankan sistem tanpa pengawasan.
“Bayangkan jika karyawan menggunakan model AI yang tidak teruji untuk membuat sistem otonom. Risiko kebocoran data, kesalahan sistem, hingga kerugian reputasi bisa terjadi kapan saja,” kata Woodson, dalam siaran pers, 12/01/2026.
Menurutnya, ancaman ini bersifat laten, sulit dideteksi, dan dampaknya bisa sangat luas jika perusahaan tidak memiliki tata kelola AI yang kuat.
AI Tidak Lagi Serba Guna, Tapi Makin Spesifik
Sementara itu, CPTO OutSystems, Luis Blando, memprediksi bahwa AI di masa depan tidak lagi bersifat generik.
Pada 2026, AI akan lebih terspesialisasi sesuai kebutuhan industri. Alih-alih mencari satu “model terbaik untuk semua hal”, perusahaan akan mulai memilih teknologi AI berdasarkan tugas dan konteks spesifik.
“AI akan semakin fokus pada beban kerja tertentu, sehingga hasilnya lebih cepat, akurat, dan relevan,” ujar Blando.
Ia juga menyoroti kemunculan AI vertikal, yaitu model yang dilatih menggunakan data, bahasa, dan alur kerja khusus industri. AI jenis ini dinilai lebih unggul dalam menangani persoalan kompleks yang sulit dipecahkan oleh AI generik.
AI Agentik: Otomatisasi yang Lebih “Manusiawi”
Dari sisi operasional, CIO OutSystems, Tiago Azevedo, menyebut bahwa AI agentik akan berperan besar dalam “memanusiakan kembali” perusahaan.
AI agentik diprediksi akan mengambil alih tugas-tugas rutin dan administratif, mulai dari pengolahan data hingga proses onboarding karyawan.
Hasilnya? Manusia punya lebih banyak waktu untuk fokus pada kreativitas, strategi, dan interaksi sosial.
“Soft skills seperti kolaborasi, empati, dan pengambilan keputusan akan semakin penting,” kata Tiago.
Ia mencontohkan, ketika tugas administratif SDM diotomatisasi, produktivitas karyawan bisa meningkat hingga 30 persen. Bahkan, sekitar 23 persen tenaga kerja diproyeksikan akan berpindah ke peran baru yang lebih strategis.
Tahun 2026: Akhir Burnout Developer?
VP of Developer Relations OutSystems, Miguel Baltazar, menilai 2026 bisa menjadi titik balik bagi para developer yang selama ini dilanda burnout.
Berdasarkan survei 2024 terhadap 600 engineer, hampir 65 persen mengaku mengalami kelelahan kerja, meskipun sudah menggunakan AI. Penyebabnya? Kualitas hasil dari alat AI generatif masih belum konsisten.
“AI memang mengurangi pekerjaan repetitif, tapi kualitas software yang dihasilkan baru di kisaran 60 persen. Sisanya tetap harus diperbaiki manual,” ujar Miguel.
Di sinilah peran platform low-code berbasis AI dianggap krusial. Dengan menggabungkan otomatisasi dan tata kelola yang terintegrasi, platform ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi risiko burnout.
Menuju 2026: AI Harus Terkendali, Bukan Liar
OutSystems menegaskan bahwa masa depan AI di dunia bisnis bukan hanya soal kecepatan inovasi, tapi juga pengendalian.
Shadow AI diprediksi akan menjadi tantangan besar, sementara sistem agentik yang terspesialisasi akan semakin dibutuhkan untuk memberikan nilai nyata.
Di sisi lain, platform low-code berbasis AI akan membantu perusahaan mengembangkan aplikasi lebih cepat, lebih aman, dan lebih efisien—tanpa mengorbankan kesejahteraan para pengembang.













