Jakarta, CoreNews.id – Dalam Islam, kesempurnaan iman bukan hanya diukur dari ritual ibadah, tetapi juga dari akhlak sosial yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa amalan terbaik justru terletak pada bagaimana seorang Muslim membawa kedamaian dan rasa aman bagi sesama.
Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW ditanya, “Apakah amalan yang paling utama dalam Islam?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” Artinya, keutamaan seorang Muslim terletak pada kemampuannya menjaga lisan dan perbuatan agar tidak menyakiti orang lain.
Selain itu, Nabi SAW juga menegaskan bahwa kebaikan dalam Islam dapat dimulai dari hal sederhana. “Memberi makan dan memberi salam kepada orang yang kamu kenal atau tidak kenal,” sabda beliau seperti diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Salam dan kepedulian menjadi pintu masuk persaudaraan yang kuat.
Iman dalam Islam memiliki banyak cabang. Rasulullah SAW menyebutkan, iman memiliki puluhan cabang, mulai dari mengucapkan kalimat tauhid La ilaha illallah, hingga menyingkirkan gangguan di jalan. Salah satu cabang iman yang sering diabaikan adalah rasa malu. “Malu itu satu cabang dari iman,” sabda Nabi SAW. Bahkan, beliau menegaskan bahwa sifat malu tidak akan mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.
Dari penjelasan Nabi SAW ini, terlihat jelas bahwa Islam sangat menekankan keseimbangan antara hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Amalan sosial yang mendatangkan rasa aman dan kedamaian justru menjadi tolok ukur kualitas keimanan seseorang.
Sumber: Republika












