Jakarta, CoreNews.id – Pergerakan saham emiten konglomerasi di Bursa Efek Indonesia menunjukkan performa beragam pada awal 2026. Beberapa grup menunjukkan tren positif kuat, sementara yang lain masih terkoreksi.
Grup Sinar Mas dan Lippo menjadi primadona. Saham Lippo Karawaci (LPKR) dan Lippo Cikarang (LPCK) masing-masing melonjak di atas 35%. Di Grup Sinar Mas, saham seperti SMAR, TKIM, dan INKP juga mencatatkan kenaikan harga dua digit.
Sebaliknya, saham-saham terafiliasi Prajogo Pangestu, seperti BRPT dan CDIA, serta beberapa saham Grup Bakrie seperti BUMI, mengalami tekanan jual dan koreksi.
Apa Penyebabnya?
Analis mencatat, perbedaan kinerja ini dipicu oleh rotasi sektor, kualitas laba, dan aksi profit taking. Saham yang naik umumnya memiliki visibilitas laba jelas dan sentimen positif seperti pemulihan konsumsi. Sementara yang turun seringkali karena profit taking setelah rally 2025 atau keterbatasan free float.
Peluang di 2026
Meski beragam, analis sepakat saham konglomerasi masih menarik. Saham dengan orientasi sektor defensif, konsumsi, dan infrastruktur diperkirakan lebih diminati di tengah ketidakpastian global. Potensi masuk dalam indeks global seperti MSCI juga menjadi faktor pendorong, meski seleksinya kini lebih ketat.
Beberapa saham seperti DEWA, BRMS, dan saham Grup Bakrie lain disebut masih berpotensi, tergantung realisasi fundamental dan perbaikan likuiditas.













