Jakarta, CoreNews.id – Langkah kaki para mahasiswa teknik itu terdengar lebih cepat dari biasanya. Di ruang-ruang kuliah Institut Teknologi Bandung (ITB), awal Februari 2026, diskusi tak lagi sebatas teori. Industri hadir langsung ke kampus.
Melalui inisiatif “ABB Motion Goes to Campus”, ABB Motion menegaskan komitmennya menjembatani dunia akademia dan industri. Program ini telah menjalin kolaborasi dengan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Universitas Trisakti, serta Politeknik Negeri Bandung (Polban). Ke depan, jejaring ini terbuka untuk diperluas.
Kehadiran program tersebut bukan tanpa alasan. Kebutuhan talenta teknik yang siap industri terus meningkat. Sejumlah survei menunjukkan pengalaman praktis dan keterampilan aplikatif menjadi faktor utama perekrutan. Di Indonesia, fenomena lulusan bekerja di luar bidang studinya memperlihatkan adanya jurang kompetensi. Kolaborasi industri–akademia pun menjadi kebutuhan strategis.
Pada 3–6 Februari 2026, workshop di ITB menghadirkan sesi pemaparan teknologi motion, otomasi, dan efisiensi energi. Puluhan mahasiswa lintas disiplin berdialog langsung dengan praktisi industri. Diskusi mengalir dari ruang kelas ke simulasi kasus nyata, memperlihatkan bagaimana teori bertemu kebutuhan lapangan.
Chen-Kang Tan, Vice President, Head of Local Business Area Motion ABB Indonesia, 10/2/2026, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan kontribusi berkelanjutan ABB dalam membangun kesiapan talenta nasional. Menurutnya, kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi kunci agar lulusan tak hanya kuat secara teoritis, tetapi juga adaptif terhadap teknologi yang digunakan industri saat ini dan mendatang.
Dari sisi kampus, dukungan serupa disampaikan Wakil Dekan Sumberdaya Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB. Interaksi langsung dengan praktisi dinilai memberi perspektif komprehensif bagi mahasiswa mengenai kompetensi masa depan.
Lebih dari program edukasi, ABB Motion Goes to Campus menjadi platform jangka panjang: menghadirkan hibah produk, workshop teknis, hingga forum thought leadership. Transfer pengetahuan ini diarahkan untuk memperkuat ekosistem energi dan teknologi nasional yang efisien serta berkelanjutan.
Di tengah transformasi industri global, sinergi semacam ini menjadi fondasi penting. Dari kampus, masa depan tenaga teknik Indonesia mulai dirancang—lebih siap, lebih relevan, dan lebih kompetitif.













