Jakarta, CoreNews.id – Di tengah dorongan mempercepat pertumbuhan ekonomi dan memperluas inklusi keuangan, akses pembiayaan formal di Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) bersama Mandala Consulting resmi meluncurkan white paper berjudul “Mendorong Perluasan Akses Kredit melalui Kolaborasi Bertanggung Jawab antara Bank dan Pindar” di Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Dokumen tersebut mengulas kesenjangan akses kredit formal sekaligus menyoroti potensi kolaborasi antara perbankan dan platform pinjaman daring (pindar) atau fintech peer-to-peer (P2P) lending. Peluncuran white paper ini turut melibatkan regulator, institusi perbankan, asosiasi industri, ekonom, sektor asuransi, hingga ekosistem Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA).
Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, 12/2/2026, menyebut stagnasi akses kredit di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan mencerminkan keterbatasan sistem pembiayaan formal dalam menjangkau segmen underbanked. Menurutnya, pendekatan kolaboratif antara bank dan pindar menjadi semakin penting untuk memperluas akses pembiayaan, khususnya bagi pelaku UMKM dan masyarakat yang belum terlayani optimal.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan pendanaan bank kepada pindar melonjak dari Rp4,5 triliun pada 2021 menjadi Rp46,1 triliun pada 2024. Pada Januari 2025, porsi pendanaan perbankan bahkan mencapai 71% atau sekitar Rp46,6 triliun. Tren ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan bank terhadap model bisnis pindar, sekaligus urgensi membangun kerangka kolaborasi yang terstruktur dan berorientasi jangka panjang.
Direktur Ekonomi Syariah dan BUMN Kementerian PPN/Bappenas, Rosy Wediawaty, menilai perluasan akses pembiayaan berperan strategis dalam mendukung agenda pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan. Optimalisasi berbagai kanal pembiayaan, termasuk kolaborasi lembaga keuangan konvensional dan inovatif, dinilai dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Temuan studi juga mengungkap masih besarnya populasi dewasa yang belum sepenuhnya terintegrasi ke sistem keuangan formal. Data World Bank mencatat sekitar 48% penduduk dewasa Indonesia masih underbanked. Sementara itu, inklusi keuangan perbankan baru menyentuh sekitar 70% pada 2025, sehingga sekitar 30% orang dewasa masih tergolong financially excluded. Rasio kredit terhadap PDB Indonesia pun stagnan di kisaran 36,4% pada 2024–2025, jauh di bawah rata-rata negara berpendapatan menengah.
Di sisi lain, penetrasi internet yang telah mencapai 75% membuka peluang baru. Studi mencatat pindar menjadi kanal pembiayaan dengan pertumbuhan tercepat, sekitar 34% per tahun sepanjang 2019–2024. Keunggulan pindar terletak pada underwriting digital, pemanfaatan data alternatif untuk credit scoring, serta proses yang lebih lincah.
Kepala Departemen P2P Lending AFTECH sekaligus Direktur Utama Easycash, Nucky Poedjiardjo, menegaskan keberhasilan kolaborasi sangat bergantung pada tata kelola dan kepatuhan yang sejalan dengan standar perbankan. Ia meyakini, dengan penguatan governance dan kapabilitas teknologi, sinergi bank–pindar dapat menjadi batu loncatan menuju inklusi keuangan yang lebih merata dan ekonomi yang lebih tangguh.













