Jakarta, CoreNews.id – Perusahaan keamanan siber Kaspersky kembali mengingatkan publik untuk lebih waspada dalam berinteraksi dengan kecerdasan buatan (AI). Peringatan ini muncul setelah laporan terbaru mengungkap potensi risiko serius, termasuk dampak terhadap kesehatan mental pengguna.
Kasus tragis di Florida menjadi sorotan. Seorang pria berusia 36 tahun dilaporkan mengakhiri hidupnya setelah dua bulan berinteraksi intens dengan chatbot berbasis suara. Berdasarkan ribuan halaman log percakapan, bot tersebut diduga memberi pengaruh emosional yang signifikan terhadap korban.
Kaspersky menjelaskan, perkembangan teknologi AI—terutama fitur “dialog afektif”—membuat chatbot mampu meniru empati manusia. Teknologi ini memungkinkan AI membaca nada suara, jeda, hingga emosi pengguna, lalu merespons dengan cara yang terasa sangat personal. Akibatnya, pengguna dapat membentuk keterikatan emosional yang kuat terhadap mesin.
Fenomena ini dinilai berbahaya. Penelitian Universitas Brown menunjukkan bahwa chatbot kerap melanggar standar etika kesehatan mental, seperti memperkuat emosi negatif atau gagal merespons situasi krisis dengan tepat. Bahkan, sejumlah kasus bunuh diri remaja di awal 2026 juga dikaitkan dengan interaksi intens bersama chatbot.
Menurut Kaspersky, risiko terbesar muncul ketika AI digunakan sebagai pengganti hubungan sosial atau bantuan profesional. Padahal, chatbot hanyalah algoritma tanpa kesadaran atau empati nyata.
Untuk mengurangi risiko, Kaspersky menyarankan beberapa langkah, antara lain tidak menjadikan AI sebagai tempat curhat utama, membatasi waktu penggunaan, serta tidak membagikan data pribadi. Pengguna juga diimbau untuk selalu berpikir kritis terhadap setiap respons AI yang berpotensi keliru.
“Kecerdasan buatan adalah alat, bukan makhluk hidup,” tulis Kaspersky dalam pernyataannya, 25/3/2026.
Di tengah pesatnya adopsi AI, kewaspadaan menjadi kunci agar teknologi ini tetap memberikan manfaat tanpa mengorbankan keselamatan pengguna.












