Jakarta, CoreNews.id – Pemerintah China resmi memblokir akuisisi startup kecerdasan buatan (AI) Manus oleh perusahaan teknologi Amerika Serikat, Meta Platforms. Langkah ini mencerminkan meningkatnya rivalitas teknologi antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, terutama di sektor strategis seperti AI.
Keputusan tersebut diambil oleh National Development and Reform Commission (NDRC), otoritas perencana ekonomi China, yang memerintahkan pembatalan transaksi. Regulator menilai akuisisi tersebut berpotensi memindahkan talenta unggulan dan kekayaan intelektual strategis ke pihak asing.
Proteksi Teknologi Strategis
Langkah Beijing ini tidak lepas dari dinamika hubungan teknologi global yang semakin kompleks. Pemerintah China menilai sektor kecerdasan buatan memiliki nilai strategis setara dengan industri semikonduktor.
Kebijakan ini juga menjadi respons terhadap pembatasan teknologi yang diterapkan Amerika Serikat, termasuk kontrol ekspor chip canggih yang bertujuan membatasi perkembangan AI China.
Dalam konteks tersebut, Beijing memperketat pengawasan terhadap investasi asing, terutama yang menyasar perusahaan teknologi dengan potensi inovasi tinggi.
Akuisisi US$2 Miliar Gagal
Meta sebelumnya dilaporkan telah mengakuisisi Manus pada Desember dengan nilai lebih dari US$2 miliar. Akuisisi ini bertujuan memperkuat pengembangan AI agent, yakni teknologi yang mampu menjalankan tugas kompleks dengan intervensi manusia minimal.
Namun, proses tersebut terhenti setelah otoritas China melakukan peninjauan. Pada Maret, CEO Manus Xiao Hong dan kepala ilmuwan Ji Yichao bahkan dilaporkan dicegah bepergian ke luar negeri selama investigasi berlangsung.
Manus sendiri sempat mendapat sorotan sebagai “DeepSeek berikutnya” oleh media pemerintah China, menyusul peluncuran teknologi yang diklaim sebagai AI agent umum pertama di dunia.
Dampak ke Hubungan AS–China
Pemblokiran ini berpotensi menjadi isu sensitif dalam hubungan bilateral. Apalagi, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu di Beijing pada pertengahan Mei mendatang.
Keputusan tersebut diperkirakan akan memperumit negosiasi, terutama terkait kerja sama teknologi dan perdagangan digital.
AI Jadi Arena Baru Kompetisi Global
Analis menilai, kecerdasan buatan kini menjadi pusat persaingan geopolitik global. Jika sebelumnya fokus konflik teknologi berada pada semikonduktor, kini perhatian beralih ke AI sebagai teknologi masa depan.
Selain itu, langkah ini juga menegaskan bahwa relokasi perusahaan ke luar negeri tidak serta-merta menghindarkan dari pengawasan regulator China. Manus, yang sempat memindahkan kantor pusat ke Singapura, tetap berada dalam radar otoritas Beijing.
Ke depan, dinamika ini diperkirakan akan memengaruhi arus investasi global di sektor teknologi, sekaligus memperdalam fragmentasi ekosistem digital dunia.













