Jakarta, CoreNews.id – Lebih dari 61.000 warga Palestina telah meninggal akibat serangan Israel yang terus berlangsung, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak. Mengutip laman Al Jazeera, kota, rumah sakit, sekolah, dan tempat ibadah hancur. Krisis ini memutus akses air, listrik, dan layanan kesehatan, membuat Gaza berada di titik kritis.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut tragedi di Gaza sebagai genosida dan ujian hati nurani dunia. Ia menegaskan bahwa sikap diam komunitas internasional memperburuk penderitaan rakyat Palestina.
Erdogan menyoroti perbedaan sikap Barat yang cepat merespons krisis lain, seperti di Ukraina, namun lamban dalam menghadapi penderitaan di Gaza.
Turki mengirim bantuan makanan, obat-obatan, dan mengevakuasi korban luka ke rumah sakit di negaranya. Ankara juga bekerja sama dengan Qatar dalam diplomasi gencatan senjata dan pembukaan koridor kemanusiaan.
Kekerasan di Gaza berpotensi memicu ketegangan regional, termasuk antara Israel dan Iran, yang bisa berdampak pada keamanan energi dan gelombang pengungsian baru.
Presiden Turki menegaskan langkah-langkah utama:
- Gencatan senjata segera tanpa syarat.
- Koridor bantuan kemanusiaan yang aman.
- Penyelidikan kejahatan perang di Mahkamah Internasional.
- Rekonstruksi Gaza secara menyeluruh.
- Pengakuan negara Palestina merdeka melalui solusi dua negara.
Erdogan mengingatkan bahwa tindakan yang diambil dunia hari ini akan menentukan masa depan kemanusiaan. “Gaza tidak punya waktu lagi,” tegasnya.













