Jakarta, CoreNews.id – Hujan lebat membanjiri kamp-kamp pengungsian di Gaza, memperparah kondisi warga yang sudah hidup serba kekurangan. Jalan-jalan berubah menjadi sungai, sementara keluarga harus bertahan di tenda basah dan cuaca dingin. Melansir NBC News, Selasa (18/11/2025), badai yang datang bersamaan dengan suhu rendah membuat situasi kemanusiaan semakin kritis. Infrastruktur air dan sanitasi yang runtuh akibat dua tahun serangan Israel kian memicu bencana.
Ratusan ribu warga kini tinggal di area tanpa fasilitas dasar, sementara IOM mencatat 1,5 juta orang membutuhkan tempat berlindung darurat. Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, menyebut kondisi ini sebagai “bencana nyata.” Campuran air hujan dan limbah menciptakan ancaman kesehatan serius karena sistem drainase dan pembuangan telah hancur.
“Tidak ada sistem pembuangan limbah dan tidak ada reservoir air; semuanya dihancurkan,” ujar Basal.
PBB menilai upaya bantuan terhambat setelah Israel menolak lebih dari 100 permintaan masuknya bantuan penting, termasuk selimut dan pakaian musim dingin. Para pengungsi kini terus berjuang bertahan di tengah kondisi politik dan infrastruktur yang kian memburuk.













