Penulis: Inger Ashing
Jakarta, CoreNews.id – Memasuki tahun 2026, satu kenyataan pahit tak bisa disangkal: dunia masih gagal melindungi anak-anaknya. Di saat kebutuhan anak mencapai titik tertinggi dalam sejarah modern, sistem kemanusiaan global justru berada dalam kondisi paling rapuh dalam beberapa dekade terakhir.
Peristiwa sepanjang 2025 menjadi titik balik yang mengguncang upaya kemanusiaan dan pembangunan dunia. Ketika Amerika Serikat menghentikan bantuan luar negerinya secara mendadak pada Januari 2025, miliaran dolar bantuan lenyap dalam semalam. Program-program vital terhenti, kantor-kantor kemanusiaan ditutup, dan jutaan orang kehilangan akses terhadap makanan, layanan kesehatan, pendidikan, serta perlindungan.
Seperti yang kerap terjadi, anak-anak menjadi pihak yang paling menderita.
Dampak Langsung Pemotongan Bantuan Kemanusiaan
Bagi organisasi non-pemerintah internasional, dampaknya terasa seketika. Save the Children, yang telah berdiri lebih dari satu abad, terpaksa mengambil keputusan paling sulit dalam sejarahnya: menutup kantor di sejumlah negara, memangkas ribuan staf, dan menghentikan operasi penyelamatan nyawa.
Diperkirakan sekitar 11,5 juta orang, termasuk 6,7 juta anak, terdampak langsung oleh pemotongan tersebut, dengan jutaan lainnya menghadapi dampak jangka panjang.
Krisis ini terjadi di saat anak-anak di seluruh dunia sudah menghadapi tekanan besar akibat konflik bersenjata, pengungsian massal, dan perubahan iklim. Puluhan tahun kemajuan global terancam mundur drastis.
Angka yang Menggambarkan Kegagalan Dunia
Data tahun 2025 menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan:
- 1 dari 5 anak hidup di zona konflik aktif
- 50 juta anak terpaksa mengungsi dari rumah mereka
- 1,12 miliar anak tidak mampu mengakses makanan bergizi seimbang
- 272 juta anak tidak bersekolah
Di balik setiap angka tersebut, ada anak yang kehilangan masa kecilnya—hidup dalam ketakutan, kelaparan, dan ketidakpastian masa depan.
Saat Sistem Bantuan Global Terbukti Rapuh
Bagi anak-anak, runtuhnya bantuan bukan sekadar keputusan anggaran, melainkan pengalaman traumatis. Klinik kesehatan ditutup, sekolah berhenti beroperasi, dan layanan perlindungan menghilang tepat saat kekerasan, bencana iklim, dan pengungsian semakin meningkat.
Krisis ini juga membuka mata dunia akan rapuhnya sistem bantuan global yang sangat bergantung pada segelintir donor negara. Ketika arah politik berubah, dampaknya langsung menghantam kehidupan anak-anak yang paling rentan.
Harapan dari Akar Rumput dan Komunitas Lokal
Namun, di tengah kekacauan tersebut, muncul secercah harapan. Di berbagai tempat, keluarga, guru, tenaga kesehatan, dan organisasi lokal berjuang menjaga pendidikan tetap berjalan, menyediakan layanan dasar, dan menciptakan ruang aman bagi anak-anak.
Upaya ini menegaskan satu kebenaran penting: respons kemanusiaan paling kuat adalah yang berakar dekat dengan komunitas anak itu sendiri.
Kemajuan Kecil yang Membawa Harapan Besar
Meski dunia mengalami kemunduran hak asasi manusia, beberapa kemajuan penting tetap tercapai. Thailand melarang hukuman fisik terhadap anak, Bolivia mengkriminalisasi pernikahan anak dan mengesahkan undang-undang perlindungan digital, serta reformasi hukum lain yang memperkuat perlindungan anak.
Hal ini membuktikan bahwa perubahan tetap mungkin terjadi, bahkan di masa tersulit sekalipun.
2026: Saatnya Mengubah Model Bantuan Dunia
Guncangan 2025 menjadi momentum refleksi global. Dunia kini dihadapkan pada pilihan penting: membangun sistem bantuan yang lebih berkelanjutan, dipimpin secara lokal, dan bertanggung jawab langsung kepada anak-anak yang dilayaninya.
Pertanyaan besar tak bisa lagi ditunda:
- Bagaimana bantuan kemanusiaan dilindungi dari gejolak politik?
- Bagaimana pendanaan dapat didiversifikasi agar tidak bergantung pada satu donor?
- Bagaimana anak-anak dilibatkan secara bermakna dalam keputusan yang menentukan masa depan mereka?
Inovasi teknologi dapat membantu, tetapi bukan solusi tunggal. Tantangan utamanya bersifat politik dan etis.
Anak-Anak Tetap Bermimpi, Dunia Tak Boleh Menyerah
Anak-anak tidak berhenti ingin belajar, bermain, dan bermimpi meski perang berkecamuk atau bantuan menghilang. Di kamp pengungsian dan kota-kota yang hancur, mereka tetap bersuara dan membayangkan masa depan yang lebih baik.
Pengalaman di Gaza menjadi pengingat paling menyakitkan. Anak-anak hidup di bawah teror berkepanjangan, menghadapi malnutrisi, kehilangan orang tua, bahkan merasa kematian lebih baik daripada hidup dalam ketakutan. Tak ada anak yang seharusnya hidup dalam kondisi seperti itu.
Menjadikan 2026 Titik Balik untuk Anak Dunia
Jika 2025 membuka mata dunia atas kegagalan sistem lama, maka 2026 harus menjadi titik balik. Dunia memiliki pilihan untuk membangun sistem yang tangguh terhadap guncangan politik, berbasis kepemimpinan lokal, dan benar-benar menempatkan anak-anak sebagai pusat kebijakan.
Apa pun perubahan dunia ke depan, satu prinsip harus tetap teguh: anak-anak harus selalu didahulukan, di mana pun dan kapan pun.
Sumber: Al Jazeera.com
Pandangan dalam artikel ini merupakan pendapat penulis dan tidak mencerminkan sikap redaksi CoreNews.id.













