Jakarta, CoreNews.id – Dunia internasional dikejutkan oleh kabar serangan besar-besaran Amerika Serikat (AS) ke Venezuela pada Sabtu dini hari waktu setempat. Dalam operasi militer yang berlangsung singkat namun intens, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara tersebut.
Pengumuman mengejutkan itu disampaikan Trump melalui media sosial, hanya beberapa jam setelah ledakan terdengar di ibu kota Caracas. Trump menyebut operasi tersebut sebagai aksi yang “berhasil” dan dilakukan bersama aparat penegak hukum AS.
Ledakan Guncang Caracas, Warga Panik
Sedikitnya tujuh ledakan terdengar di Caracas pada hari ketiga tahun 2026. Suara dentuman keras membuat warga berhamburan ke jalan, sementara media sosial dibanjiri laporan visual dan kesaksian warga.
Hingga kini, belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa. Serangan tersebut disebut berlangsung kurang dari 30 menit, namun memicu spekulasi luas soal kemungkinan aksi lanjutan.
Maduro Menghilang, Pemerintah Venezuela Tuntut Bukti
Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez menyatakan pihaknya tidak mengetahui keberadaan Nicolás Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores. Pemerintah Venezuela bahkan menuntut “bukti kehidupan” dari AS untuk memastikan kondisi pemimpin mereka.
“Ini adalah situasi yang sangat serius. Kami menuntut kejelasan dan bukti bahwa Presiden masih hidup,” ujar Rodríguez dalam pernyataan resminya.
Trump: Operasi “Brilian” dan Terencana
Dalam wawancara singkat via telepon dengan The New York Times, Trump memuji operasi tersebut sebagai langkah “brilian” hasil perencanaan matang.
“Banyak perencanaan hebat, pasukan yang luar biasa, dan orang-orang yang sangat hebat,” kata Trump.
Trump juga mengumumkan akan menggelar konferensi pers di Mar-a-Lago, Florida, pada pukul 11.00 waktu setempat untuk mengungkap detail lebih lanjut.
Tekanan AS ke Venezuela Kian Memuncak
Klaim penangkapan Maduro ini terjadi setelah berbulan-bulan tekanan militer dan ekonomi AS terhadap Venezuela. Sebelumnya, Trump berulang kali menyebut bahwa “hari-hari Maduro sudah dihitung.”
Ironisnya, hanya dua hari sebelum serangan, Maduro sempat menawarkan kerja sama kepada AS terkait pemberantasan narkoba dan migrasi ilegal.
AS menuduh Venezuela sebagai eksportir utama narkoba dan mengklaim negara tersebut telah menyita kepentingan minyak milik AS. Meski Trump tidak secara eksplisit menyerukan penggulingan Maduro, AS dan sejumlah negara Eropa tidak mengakui legitimasi kepemimpinannya.
Armada Militer AS Kepung Karibia
Dalam beberapa pekan terakhir, AS diketahui membangun kehadiran militer besar-besaran di kawasan Karibia, termasuk pengerahan kapal induk USS Gerald R. Ford dan sejumlah kapal perang lainnya.
AS juga telah:
- Menyita dua kapal tanker minyak Venezuela
- Melakukan blokade minyak
- Menewaskan lebih dari 100 orang dalam serangan udara terhadap kapal kecil yang dituduh terlibat perdagangan narkoba
Awal pekan ini, Trump mengonfirmasi serangan pertama di daratan Venezuela, dengan menghancurkan area dermaga yang disebut digunakan untuk aktivitas ilegal.
Situasi Masih Berkembang
Hingga artikel ini ditulis, belum ada konfirmasi independen mengenai kondisi Maduro dan istrinya. Ketegangan geopolitik di kawasan Amerika Latin pun dipastikan meningkat tajam, dengan dunia menanti klarifikasi resmi lanjutan dari Washington maupun Caracas.
Sumber: Dailysabah.com













