Jakarta, CoreNews.id — Washington akan melancarkan serangan militer kedua ke Venezuela menyusul penangkapan Presiden Nicolas Maduro, bila sisa pemerintahan di Caracas tidak bekerja sama dengan upaya AS untuk “membereskan” negara tersebut. Washington juga akan bekerja sama dengan pejabat yang masih tersisa dari rezim Maduro untuk memberantas perdagangan narkoba dan merombak industri minyak.
Hal ini disampaikan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di atas pesawat Air Force One pada Minggu (4/1/2026). Menurut Trump kembali, AS membuka peluang eskalasi intervensi militer ke negara Amerika Latin lain. Kolombia dan Meksiko berpotensi menjadi target berikut untuk menghadapi tindakan militer jika tidak menekan arus narkoba ke Amerika Serikat.
Sementara itu, pejabat tinggi Venezuela mengecam penahanan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, sebagai tindakan penculikan. Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello menegaskan Maduro tetap presiden yang sah. Pada saat ini, Wakil Presiden Delcy Rodriguez, yang juga menjabat Menteri Perminyakan, mengambil alih sebagai pemimpin sementara dengan dukungan Mahkamah Agung Venezuela. Ia dengan tegas membantah klaim Trump bahwa dirinya bersedia bekerja sama dengan AS.*













