Jakarta, CoreNews.id – Tren hidup sehat terus berkembang. Mulai dari diet keto, plant-based, hingga intermittent fasting, berbagai metode silih berganti populer di media sosial. Namun, tak sedikit orang yang mengeluh, hasilnya tidak selalu sama pada setiap orang.
Kini, muncul pendekatan baru yang menawarkan solusi lebih personal: food genomics atau nutrigenomik. Metode ini mengatur pola makan berdasarkan profil DNA masing-masing individu.
Konsepnya sederhana: karena setiap orang memiliki kode genetik yang berbeda, maka kebutuhan nutrisinya pun tidak bisa disamaratakan.
“Tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang. Perbedaan kode genetik memengaruhi cara tubuh merespons nutrisi, sehingga pendekatan ini sangat personal,” ujar dr. Davie Muhamad, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi Klinik di Primaya Hospital Bekasi Barat, dalam keterangannya, 9/01/2026.
Kenapa Diet Bisa Cocok di Satu Orang, Tapi Gagal di Orang Lain?
Pernah merasa sudah mengikuti diet yang sama persis dengan teman, tapi hasilnya berbeda? Menurut dr. Davie, hal ini wajar. Faktor genetik memengaruhi banyak hal, mulai dari metabolisme, penyerapan nutrisi, hingga sensitivitas terhadap makanan tertentu.
Inilah yang menjadi dasar food genomics. Pendekatan ini membantu mengidentifikasi bagaimana tubuh seseorang merespons karbohidrat, lemak, protein, serta kebutuhan vitamin dan mineral tertentu.
Misalnya, ada orang yang lebih optimal dengan asupan karbohidrat tinggi, sementara yang lain justru lebih cocok dengan lemak sehat. Ada pula yang membutuhkan tambahan vitamin D atau omega-3 lebih banyak dibandingkan rata-rata.
Bagaimana Cara Kerja Food Genomics?
Tes food genomics biasanya dilakukan melalui sampel darah atau air liur. Proses analisis memakan waktu sekitar 1–2 minggu. Setelah itu, hasilnya akan diinterpretasikan oleh dokter gizi klinik untuk menyusun rekomendasi nutrisi yang sesuai dengan kondisi genetik seseorang.
Tak hanya soal makanan, rekomendasi juga bisa mencakup jenis olahraga yang lebih cocok, pola aktivitas, hingga potensi intoleransi atau alergi makanan.
“Secara teori, hasil nutrigenomik tidak berubah karena genetik bersifat tetap. Tapi dalam praktiknya, tetap harus mempertimbangkan faktor epigenetik dan lingkungan, seperti stres, pola hidup, dan aktivitas fisik,” jelas dr. Davie.
Artinya, meski berbasis DNA, pendekatan ini tetap fleksibel dan disesuaikan dengan kondisi kehidupan sehari-hari.
Bukan Jalan Pintas, Tapi Pendukung Gaya Hidup Sehat
Meski terdengar futuristik, dr. Davie menegaskan bahwa food genomics bukanlah pengganti prinsip dasar hidup sehat. Masyarakat tetap perlu menjaga kebiasaan sederhana, seperti makan teratur, tidak melewatkan waktu makan, dan memastikan komposisi makanan seimbang.
Food genomics lebih tepat disebut sebagai alat bantu untuk mengenali tubuh sendiri dengan lebih baik.
“Pendekatan ini bisa membantu menentukan pola makan yang lebih sesuai, tetapi tetap harus dibarengi dengan gaya hidup sehat secara keseluruhan,” katanya.
Diet Masa Depan: Lebih Personal dan Presisi
Ke depan, food genomics diproyeksikan menjadi bagian dari gaya hidup sehat modern. Integrasinya dengan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), big data, dan perangkat wearable membuka peluang diet yang semakin presisi.
Bayangkan, suatu hari nanti jam tangan pintar bisa memberi rekomendasi menu harian berdasarkan DNA, aktivitas, dan kondisi tubuh secara real-time.
“Harapannya, food genomics dapat menjadi alat pendukung dalam menentukan pola makan yang lebih personal dan berkontribusi pada perbaikan tren kesehatan masyarakat Indonesia dalam sepuluh tahun ke depan,” tutup dr. Davie.













