Jakarta, CoreNews.id – Thomas Djiwandono secara resmi ditunjuk sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), mengisi posisi yang ditinggalkan Juda Agung. Penetapan ini merupakan hasil keputusan musyawarah Komisi XI DPR RI, Senin (26/1/2026), dan akan dibawa ke Rapat Paripurna DPR untuk persetujuan akhir.
Pria kelahiran 1972 ini bukan nama baru di lingkaran ekonomi dan politik Indonesia. Ia adalah putra pertama dari mantan Gubernur BI, Soedradjad Djiwandono, dan keponakan dari Presiden Prabowo Subianto. Latar belakang pendidikannya justru dimulai dari Sejarah di Haverford College, AS, dan sempat menjadi wartawan sebelum akhirnya mendalami dunia keuangan.
Karier profesional Thomas banyak dibangun di Arsari Group, perusahaan milik pamannya, Hashim Djojohadikusumo. Ia mengabdi selama 20 tahun dan menduduki posisi puncak sebagai CEO. Di kancah politik, ia pernah menjabat sebagai Bendahara Umum Partai Gerindra (2014-2025).
Pengalaman publiknya dimulai ketika ditunjuk sebagai Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) pada Juli 2024 di bawah pemerintahan Jokowi, jabatan yang terus diembannya hingga era Presiden Prabowo. Dari posisi inilah, ia kemudian direkomendasikan Gubernur BI Perry Warjiyo bersama dua nama lainnya untuk menduduki posisi Deputi Gubernur.
Penunjukan Thomas menandai babak baru dalam kariernya, dari eksekutif swasta, pejabat kementerian, hingga kini menjadi salah satu pimpinan di bank sentral Indonesia.













