Jakarta, CoreNews.id – Sebanyak 91 persen organisasi di Indonesia lebih memilih model outsourcing atau hibrida dalam membangun Pusat Operasi Keamanan atau Security Operation Centre (SOC). Temuan ini terungkap dalam penelitian global terbaru yang dilakukan Kaspersky, seiring meningkatnya kompleksitas ancaman siber dan tuntutan kepatuhan regulasi.
Secara global, riset tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan kini meninjau ulang strategi pengelolaan SOC. Sebanyak 64 persen organisasi berencana melakukan outsourcing sebagian fungsi SOC dengan mengombinasikan kemampuan internal dan keahlian eksternal. Sementara itu, 26 persen responden menyatakan siap beralih sepenuhnya ke model SOC-as-a-Service (SOCaaS). Hanya 9 persen yang masih berencana membangun SOC sepenuhnya secara internal.
Di kawasan Asia Pasifik (APAC), tren ini bahkan lebih kuat. Hampir 93 persen organisasi di wilayah tersebut memilih outsourcing sebagian atau penuh untuk SOC mereka. Mayoritas, yakni 64 persen, mengandalkan model hibrida, sementara 29 persen memilih SOCaaS secara penuh.
Untuk Indonesia, riset mencatat 63 persen organisasi memilih model hibrida dengan sebagian fungsi SOC dikerjakan internal dan sebagian lainnya dialihdayakan. Adapun 28 persen organisasi siap menerapkan SOCaaS penuh. Angka ini menegaskan bahwa tantangan ketersediaan talenta dan kebutuhan pemantauan keamanan 24 jam menjadi faktor penentu.
Outsourcing SOC memungkinkan perusahaan menyerahkan berbagai fungsi kepada penyedia eksternal tepercaya, mulai dari desain dan arsitektur SOC, penerapan teknologi, pemantauan dan analisis keamanan, hingga layanan konsultasi dan pelatihan. Dalam model SOCaaS, penyedia bahkan menangani deteksi, investigasi, dan respons insiden secara menyeluruh sepanjang waktu.
Managing Director APAC Kaspersky, Adrian Hia, menilai organisasi kini bergerak dari perdebatan soal pentingnya keamanan siber ke pertanyaan yang lebih praktis. “Ketahanan tidak lagi hanya soal lokasi sistem, tetapi bagaimana keahlian dan tanggung jawab disusun agar tetap efektif di tengah tuntutan operasional dan regulasi yang meningkat,” ujarnya, 2/2/2026.
Motivasi utama organisasi melakukan outsourcing SOC adalah kebutuhan perlindungan 24/7. Di tingkat global, alasan ini disetujui 55 persen responden, sementara di Indonesia mencapai 49 persen. Faktor lain yang mendorong adalah pengurangan beban kerja tim internal, akses ke teknologi canggih seperti XDR dan MDR, serta dukungan pemenuhan standar regulasi.
Menariknya, optimalisasi anggaran bukan alasan utama. Hanya 37 persen perusahaan menyebut efisiensi biaya sebagai faktor penting, menandakan bahwa peningkatan kualitas perlindungan menjadi prioritas utama dalam strategi keamanan siber organisasi.













