Jakarta, CoreNews.id – Pemerintah Prancis mengungkap insiden serius terkait keamanan siber setelah basis data nasional rekening bank diretas. Kebocoran ini melibatkan sekitar 1,2 juta rekening yang terdaftar di berbagai lembaga keuangan di negara tersebut.
Kementerian Ekonomi dan Keuangan Prancis, dikutip dari pemberitaan sejumlah media internasional pada Rabu (18/2/2026), menyatakan bahwa sistem database nasional tersebut telah diakses secara ilegal oleh pihak tak berwenang.
Akses Ilegal Gunakan Kredensial Pejabat
Dalam pernyataan resminya, Kementerian menjelaskan bahwa investigasi oleh Direktorat Jenderal Keuangan Publik menemukan bahwa sejak akhir Januari, seorang pelaku kejahatan siber menggunakan kredensial curian milik seorang pejabat untuk masuk ke sistem.
Akses ilegal tersebut memungkinkan pelaku menjangkau sebagian data dalam basis data nasional rekening bank.
Data Sensitif yang Terdampak
Basis data nasional tersebut mencatat seluruh rekening bank yang dibuka di lembaga keuangan di Prancis. Informasi yang tersimpan meliputi:
- Detail rekening bank
- Identitas pemilik rekening
- Alamat nasabah
- Nomor identifikasi pajak (dalam kasus tertentu)
Dengan cakupan data seluas itu, insiden ini menjadi salah satu kebocoran data terbesar yang pernah dilaporkan pemerintah Prancis dalam beberapa tahun terakhir.
Respons Cepat Pemerintah
Setelah pembobolan terdeteksi, otoritas langsung mengambil langkah mitigasi, antara lain:
- Membatasi akses ke sistem
- Menghentikan aktivitas penyusupan
- Membatasi jumlah data yang bisa diakses atau diambil
- Mencegah akses ilegal lanjutan
Pemerintah juga telah memberi tahu lembaga-lembaga perbankan terkait insiden ini dan meminta mereka untuk mengingatkan nasabah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyalahgunaan data.
Imbauan untuk Nasabah
Masyarakat dan pemilik rekening diimbau untuk:
- Memantau aktivitas rekening secara berkala
- Mengganti kata sandi layanan perbankan digital
- Waspada terhadap email atau pesan phishing
- Segera melapor jika menemukan transaksi mencurigakan
Insiden ini kembali menyoroti pentingnya penguatan sistem keamanan siber, terutama pada basis data berskala nasional yang menyimpan informasi finansial jutaan warga.













