Jakarta, CoreNews.id — Impor rare earth Jepang dari Cina turun 5,7% secara yoy pada Januari (27/2/2026). Ada delapan komoditas terkait rare earth, diantaranya cerium oxide dan senyawa cerium yang digunakan dalam industri otomotif dan metalurgi. Sementara itu rare earth lain seperti dysprosium, yttrium, dan samarium memiliki peran kecil secara volume, namun sangat vital dalam produksi mobil, pesawat, sistem persenjataan, dan elektronik konsumen.
Hal ini berdasarkan pada perhitungan lembaga riset Mizuho Research & Technologies yang mengacu pada data perdagangan Kementerian Keuangan Jepang. Namun belum jelas apakah penurunan tersebut berkaitan langsung dengan ketegangan diplomatik antara Japan dan Cina. Penurunan impor tersebut menurut ekonom senior Mizuho, Takeshi Higashifukasawa, akan memberi dampak pada Jepang. Bila ekspor rare earth Cina dipangkas setengahnya selama enam bulan, maka produk domestik bruto (PDB) Jepang bisa turun 0,1% hingga 0,2%.
Secara umum, stabilitas pasokan mineral kritis menjadi isu strategis bagi Jepang yang memiliki sektor otomotif dan elektronik besar. Jika pembatasan berlanjut atau diperluas, Jepang kemungkinan akan mempercepat diversifikasi sumber pasokan dan pengembangan cadangan domestik untuk mengurangi ketergantungan pada Cina.*













