Jakarta, CoreNews.id – Peristiwa Nuzulul Quran menjadi salah satu momen penting dalam sejarah Islam. Pada saat inilah Alquran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Peristiwa ini terjadi di bulan Ramadhan, tepatnya pada malam Lailatul Qadar.
Secara bahasa, Nuzulul Quran berasal dari kata nazzala yang berarti turun secara berangsur-angsur. Hal ini sesuai dengan penjelasan dalam Alquran surat Al Isra ayat 106 yang menyebutkan bahwa Alquran diturunkan secara bertahap agar Nabi Muhammad SAW dapat membacakannya kepada umat manusia dengan perlahan dan penuh pemahaman.
Wahyu pertama yang turun adalah Surah Al-Alaq ayat 1–5. Ayat pertama dimulai dengan kata “Iqra” yang berarti “bacalah”. Namun, menariknya, perintah membaca ini diberikan kepada Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai sosok ummi, atau tidak membaca dan menulis.
Lalu, apa sebenarnya makna “Iqra” dalam ayat tersebut?
Pakar tafsir Alquran Prof Muhammad Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata iqra tidak hanya berarti membaca teks tertulis. Kata ini berasal dari akar kata qara’a yang pada awalnya bermakna “menghimpun”. Artinya, membaca bukan sekadar melihat tulisan, tetapi juga memahami, mengamati, dan mengumpulkan pengetahuan dari berbagai hal.
Menurut Quraish Shihab, seseorang yang memperhatikan alam semesta, mempelajari fenomena kehidupan, hingga menarik kesimpulan dari apa yang dilihat juga termasuk aktivitas membaca.
Karena itu, perintah Iqra bismi rabbik mengandung pesan besar: manusia diperintahkan untuk membaca apa saja—alam, kehidupan, ilmu pengetahuan—namun tetap mengaitkannya dengan Allah SWT.
Makna ini menunjukkan bahwa membaca adalah kunci kemajuan dan pembangunan peradaban. Dengan membaca dalam arti luas, manusia didorong untuk berpikir, belajar, dan mengambil hikmah dari segala sesuatu di sekitarnya.
Pesan inilah yang membuat perintah “Iqra” dalam peristiwa Nuzulul Quran menjadi sangat relevan hingga saat ini.
Sumber: Republika.co.id













