Jakarta, CoreNews.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai volatilitas pasar saham domestik berpotensi masih berlanjut di tengah meningkatnya risiko geopolitik global, lonjakan harga energi, serta arus dana asing yang masih berfluktuasi.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan eskalasi konflik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak global sekaligus meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan.
Harga minyak Brent bahkan tercatat telah melonjak di atas USD100 per barel, setelah mengalami kenaikan tajam sekitar 35% dalam sepekan pertama. Lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, termasuk potensi hambatan jalur tanker di Selat Hormuz.
“Level harga minyak saat ini mencerminkan premi risiko geopolitik yang besar. Jika gangguan pasokan energi berlangsung lebih lama, harga minyak akan berada di atas level USD100 per barel dalam waktu yang lebih lama, yang pada akhirnya dapat meningkatkan tekanan inflasi global, mempersempit ruang pelonggaran moneter, dan memicu risiko stagflasi,” ujar Rully dalam acara Media Day bertema “Strategic Allocations to Manage Q1 Market Volatility, Jakarta, (10/3/2026).
Menurut Mirae Asset, kenaikan harga minyak yang terlalu cepat berpotensi menghambat proses penurunan suku bunga global dan menekan pasar saham, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia.
Pada perdagangan terbaru, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat berada di level 7.585,69 atau turun 1,62%, sementara indeks MSCI Indonesia (EIDO) melemah 2,70%. Tekanan tersebut juga dipengaruhi oleh arus keluar dana asing yang masih berlanjut, dengan net foreign sell sekitar Rp263 miliar. Meski demikian, sejumlah saham berbasis komoditas masih mencatat minat beli dari investor asing, seperti ITMG, PTBA, dan BRMS.
Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Muhammad Farras Farhan menilai sektor batu bara masih memiliki ketahanan relatif di tengah siklus penurunan harga komoditas. Dalam riset terbarunya mengenai PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), perusahaan mencatat kinerja yang lebih kuat pada kuartal IV 2025 dengan pendapatan mencapai USD512 juta. Pencapaian ini didukung peningkatan volume penjualan menjadi 6,8 juta ton serta kenaikan harga jual rata-rata menjadi USD75 per ton.
“Kinerja ITMG menunjukkan bahwa disiplin biaya dan efisiensi operasional dapat membantu perusahaan mempertahankan profitabilitas meskipun harga batu bara sedang berada dalam fase penurunan,” ujar Farras.
Menurutnya, sektor komoditas berpotensi menjadi salah satu penopang pasar saham domestik ketika volatilitas global meningkat. Hal ini karena sektor tersebut umumnya memiliki arus kas yang kuat dan masih didukung permintaan global.
Menjelang periode Idul Fitri, Mirae Asset juga melihat potensi peningkatan aktivitas ekonomi domestik yang biasanya didorong oleh konsumsi masyarakat. Momentum ini dinilai dapat memberikan sentimen positif bagi sektor yang berkaitan dengan konsumsi domestik, seperti ritel, makanan dan minuman, serta transportasi.
Saham konsumer seperti CMRY dan MYOR dinilai dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi investor seiring potensi peningkatan permintaan menjelang Lebaran.
Selain itu, pasar saham juga berpotensi mendapat dukungan jangka pendek dari aktivitas penyesuaian portofolio investor menjelang periode libur panjang Lebaran. Meski demikian, arah pergerakan pasar tetap akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan sentimen global serta dinamika arus dana asing.
Melalui Media Day bertema “Strategic Allocations to Manage Q1 Market Volatility”, Mirae Asset menekankan pentingnya strategi alokasi aset yang disiplin untuk menjaga stabilitas portofolio di tengah volatilitas pasar dan ketidakpastian global. Investor dinilai perlu lebih selektif dalam menentukan sektor investasi agar tetap dapat memanfaatkan peluang yang muncul di pasar.[AS]












