Jakarta, CoreNews.id – Sebuah inovasi teknologi kesehatan mulai diuji coba di Indonesia melalui puskesmas pertama dengan AI yang memanfaatkan teknologi Optical Character Recognition (OCR) dan kecerdasan buatan prediktif untuk membantu pemantauan kesehatan ibu hamil.
Inovasi ini dikembangkan melalui kolaborasi riset yang dipimpin Summit Institute for Development dalam program KONEKSI AI in Healthcare. Teknologi tersebut dirancang untuk membantu bidan mengelola data kesehatan ibu hamil secara lebih cepat, akurat, dan efisien.
Selama ini, bidan di puskesmas harus mencatat berbagai data kesehatan ibu hamil di Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), mulai dari riwayat kehamilan, tekanan darah, hingga hasil pemeriksaan rutin. Setelah itu, data yang sama sering kali perlu dimasukkan kembali ke dalam sistem digital secara manual.
“Proses tersebut memakan waktu, terutama ketika bidan harus melayani puluhan pasien setiap hari,” dikutip dari media release, 13/3/2026.
Mengubah Foto Buku KIA Jadi Data Digital
Melalui teknologi OCR, proses pencatatan kini bisa menjadi jauh lebih sederhana. Bidan cukup memotret halaman Buku KIA menggunakan telepon genggam.
Sistem kemudian secara otomatis membaca tulisan tangan di dalam foto dan mengubahnya menjadi data digital. Informasi penting yang sebelumnya tersebar di lembaran kertas dapat langsung tersimpan dalam sistem hanya dalam hitungan menit.
Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan AI prediktif untuk membantu mendeteksi potensi risiko kesehatan pada ibu hamil.
Hasil analisis tersebut bukan diagnosis medis, melainkan indikasi awal yang membantu bidan menentukan langkah selanjutnya, seperti apakah seorang ibu membutuhkan pemantauan lebih intensif, pemeriksaan tambahan, atau rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.
Dalam praktik lapangan, kemampuan sistem untuk menandai pasien dengan risiko tertentu dapat membantu tenaga kesehatan memprioritaskan penanganan.
Uji Coba di Lombok dan Garut
Uji coba teknologi ini mulai dilakukan pada 6, 10, dan 11 Maret 2026 melalui pelatihan kepada 40 bidan desa dari empat puskesmas di dua provinsi.
Di Nusa Tenggara Barat, pelatihan diikuti oleh bidan dari Puskesmas Montong Betok dan Puskesmas Narmada di Pulau Lombok.
Sementara di Jawa Barat, kegiatan serupa melibatkan bidan dari Puskesmas Karangpawitan dan Puskesmas Cibatu di Kabupaten Garut.

Para bidan tidak hanya mempelajari cara menggunakan aplikasi, tetapi juga dilatih untuk memverifikasi hasil pembacaan OCR guna memastikan data yang masuk tetap akurat.
Langkah verifikasi ini penting karena kesalahan sekecil apa pun dalam data kesehatan dapat berdampak besar pada keputusan medis.
Kolaborasi Riset Internasional
Program OCR dan AI prediktif ini merupakan bagian dari inisiatif KONEKSI AI in Healthcare, yang dimulai sejak 2024.
Inisiatif tersebut didukung pendanaan dari Pemerintah Australia melalui skema Flourish Funding dari Dana Hibah KONEKSI. Program ini dipilih melalui proses seleksi yang menilai inovasi teknologi, relevansi dengan kebijakan kesehatan Indonesia, serta potensi dampak di lapangan.
Bagi para pengembang, implementasi di empat puskesmas ini baru merupakan tahap awal.
Hasil uji coba akan digunakan untuk mengevaluasi efektivitas sistem, sekaligus menjadi dasar pengembangan teknologi serupa agar dapat diterapkan lebih luas di berbagai daerah.
Di tengah transformasi digital layanan kesehatan, kehadiran puskesmas pertama dengan AI di Indonesia menandai langkah baru dalam pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Bagi para bidan di lapangan, teknologi ini bukan sekadar alat bantu, tetapi juga bagian dari perubahan cara kerja yang lebih modern dan berbasis data.













