Jakarta, CoreNews.id – Teknologi kecerdasan buatan (AI) kerap dituding sebagai ancaman bagi lapangan kerja. Namun, riset terbaru dari Snowflake justru menunjukkan gambaran yang lebih kompleks—dan cenderung positif.
Dalam laporan bertajuk “The ROI of Gen AI and Agents”, Snowflake bersama Omdia menemukan bahwa 77 persen organisasi di dunia mengalami peningkatan perekrutan akibat AI, dibandingkan 46 persen yang melaporkan pengurangan tenaga kerja.
AI Lebih Banyak Ciptakan Pekerjaan
Temuan ini menegaskan bahwa dampak AI tidak sesederhana menggantikan manusia. Dari organisasi yang mengalami perekrutan sekaligus pemangkasan, 69 persen menyatakan dampak bersih AI tetap positif terhadap tenaga kerja.
Peran teknis menjadi sektor yang paling diuntungkan, terutama di bidang:
- IT operations (56 persen melaporkan penambahan pekerjaan)
- Keamanan siber (46 persen)
- Pengembangan perangkat lunak (38 persen)
Namun, AI juga mendorong efisiensi yang berdampak pada pengurangan tenaga kerja di beberapa area, seperti:
- Layanan pelanggan
- Analisis data
- Operasional IT
“Artinya, AI tidak sekadar menghapus pekerjaan, tetapi mengubah struktur dan kebutuhan tenaga kerja,” dikutip dari siaran pers, 18/3/2026.
ROI AI Tinggi, Tapi Tantangan Masih Besar
Secara global, investasi AI menunjukkan hasil menjanjikan. Organisasi melaporkan imbal hasil sekitar 1,49 dolar untuk setiap 1 dolar yang diinvestasikan.
Namun, hampir seluruh responden (96 persen) mengaku masih menghadapi kendala besar, terutama:
- Kualitas dan kesiapan data
- Kurangnya keterampilan SDM
- Integrasi dengan sistem lama
- Tata kelola data (data governance)
Bahkan, hanya 7 persen data tidak terstruktur yang benar-benar siap digunakan untuk AI.
Singapura Tertinggal dalam Hasil Nyata
Menariknya, riset ini menyoroti kondisi di Singapura. Meski adopsi AI cukup tinggi, hasil nyatanya belum optimal.
- Hanya 33 persen perusahaan di Singapura yang melaporkan ROI terukur dari AI
- Angka ini jauh di bawah rata-rata global sebesar 49 persen
- Alokasi anggaran AI juga hanya 15 persen, terendah secara global
Selain itu, organisasi di Singapura masih kesulitan menentukan use case AI yang tepat, dengan 32 persen responden mengakuinya—lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.
AI Akan Membentuk Masa Depan Kerja
Snowflake menegaskan bahwa masa depan kerja akan ditentukan oleh perusahaan yang mampu:
- Mengintegrasikan AI ke operasi inti
- Membangun fondasi data yang kuat
- Meningkatkan keterampilan tenaga kerja
Alih-alih sekadar eksperimen, AI kini telah menjadi bagian dari operasional bisnis, termasuk dalam pengembangan kode, di mana sekitar 48 persen kode saat ini dihasilkan oleh AI.
Kesimpulannya, AI bukan sekadar ancaman, melainkan katalis transformasi dunia kerja—menciptakan peluang baru sekaligus menuntut adaptasi besar-besaran.













