Jakarta, CoreNews.id – Masjid An-Noor Ciputat dipenuhi ribuan jemaah yang khusyuk mengikuti rangkaian Salat Idulfitri 1447 H/2026 M. Sejak pagi, suasana religius terasa kuat, ditandai dengan gema takbir yang mengalun dan barisan jemaah yang tertib memenuhi ruang utama hingga halaman masjid. Kekhidmatan itu berlanjut saat khotbah dimulai, menghadirkan keheningan yang sarat makna.
Dalam khotbahnya, Prof. Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mengajak jemaah menelusuri teladan spiritual para ulama salaf. Dengan gaya tutur reflektif, ia membuka bagian penting khotbah dengan pernyataan yang menggugah, “Para ulama terdahulu tidak pernah merasa aman dengan amal mereka.”
Ia kemudian mengisahkan kebiasaan para generasi awal Islam yang menunjukkan kedalaman spiritual yang luar biasa. “Mereka berdoa selama enam bulan setelah Ramadan agar Allah menerima ibadah Ramadan mereka,” ungkapnya. Pernyataan ini segera mengubah suasana masjid menjadi lebih hening; banyak jemaah tampak menunduk, larut dalam perenungan pribadi.
Menurut Prof. Tholabi, sikap tersebut mencerminkan kesadaran mendalam akan kualitas amal. “Mereka tidak bangga dengan amalnya, tetapi justru khawatir apakah amal itu diterima,” jelasnya. Kekhawatiran itu, lanjutnya, bukan lahir dari keraguan terhadap rahmat Allah, melainkan dari pemahaman akan betapa telitinya penilaian Ilahi.
Ia kemudian membandingkan dengan fenomena yang kerap terjadi di tengah masyarakat saat ini. “Sebagian orang merasa lega setelah Ramadan, seolah kewajiban telah selesai,” katanya. Padahal, menurutnya, justru setelah Ramadan berakhir, dimensi evaluatif dari ibadah mulai menemukan relevansinya.
“Apakah amal itu bernilai di sisi Allah atau tidak, itulah yang seharusnya kita khawatirkan,” tegasnya. Pernyataan ini mempertegas bahwa esensi ibadah tidak berhenti pada pelaksanaan, melainkan pada penerimaan dan dampaknya terhadap kehidupan.
Suasana masjid semakin larut dalam keheningan. Khotbah terasa menyentuh sisi terdalam kesadaran spiritual jemaah, menggeser orientasi dari kuantitas amal menuju kualitas dan keikhlasan.
Prof. Tholabi menekankan bahwa kegelisahan spiritual para salaf bukanlah tanda kelemahan iman. “Ini bukan tanda lemahnya iman, tetapi tanda hati yang hidup,” ujarnya. Justru, menurutnya, hati yang hidup akan selalu merasa belum cukup dalam beribadah.
Ia pun mengingatkan pentingnya menjaga kerendahan hati setelah menjalani Ramadan. “Semakin banyak ibadah, semakin kita merasa belum cukup,” katanya, menegaskan bahwa kesempurnaan bukan milik manusia.
Khotbah ini menghadirkan perspektif mendalam bahwa ibadah adalah perjalanan tanpa henti. Ramadan merupakan titik tolak untuk terus memperbaiki diri. Pesan tersebut meninggalkan kesan kuat bagi jemaah, menjadikan Idulfitri sebagai momentum introspeksi yang lebih substansial dan berkelanjutan.












