Jakarta, CoreNews.id — Pertumbuhan penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) melambat di awal 2026. Ada 3 faktor faktor yang menahan laju pertumbuhan, yaitu: likuiditas perbankan yang masih ketat, suku bunga yang bertahan tinggi, serta kondisi ekonomi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Direktur Risk Management Bank Tabungan Negara (BTN) Setiyo Wibowo di Jakarta, (27/3/2026). Sekalipun demikian menurut Setiyo, perlambatan ini masih tergolong wajar karena faktor musiman di awal tahun. Terlebih, permintaan KPR sejauh ini tetap kuat, terutama dari segmen rumah subsidi dan pembeli akhir (end-user) yang didorong kebutuhan hunian dan dukungan program pemerintah.
Sebagai informasi, berdasar Data Bank Indonesia (BI) dicatat outstanding KPR per Januari 2026 sebesar Rp 836,28 triliun, atau hanya tumbuh 5,36% secara tahunan (year-on-year/YoY). Angka ini melambat dibandingkan Desember 2025 yang masih mencatat pertumbuhan 6,84% YoY. Sementara itu, risiko kredit meningkat. Nilai kredit bermasalah (non performing loan/NPL) KPR naik menjadi Rp 26,99 triliun atau setara 3,22% dari total portofolio. Posisi tersebut lebih tinggi dari akhir 2025 yang sebesar Rp 26,04 triliun atau 3,11%. Hal ini berarti dalam sebulan, NPL bertambah sekitar Rp 950 miliar, dan secara tahunan meningkat Rp 4,45 triliun.*













