Jakarta, CoreNews.id – Eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia secara signifikan, bahkan menembus USD150 per barel dalam skenario terburuk. Kondisi ini dinilai dapat memberikan tekanan besar terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.
Laporan riset terbaru DBS Group, 7/4/2026, menyebutkan bahwa kawasan Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global—kini berada dalam kondisi rawan akibat konflik geopolitik yang memanas.
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Energi Dunia
Selat Hormuz memiliki peran strategis sebagai jalur utama distribusi minyak dan gas alam cair (LNG). Gangguan di wilayah ini berisiko menyebabkan terganggunya pasokan energi global.
Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa Iran memiliki kemampuan untuk melakukan perang asimetris, termasuk menempatkan ranjau laut yang sulit dideteksi. Jika jalur ini terganggu, distribusi minyak bisa terhambat secara signifikan.
Bahkan, skenario terburuk berupa blokade penuh Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak ke kisaran USD100 hingga USD150 per barel.
Dampak ke Indonesia: Rupiah, Inflasi, dan IHSG Tertekan
Indonesia sebagai negara net importir minyak berpotensi terkena dampak langsung dari kenaikan harga energi. Beberapa risiko yang diidentifikasi antara lain:
- Tekanan inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar
- Pelemahan rupiah terhadap dolar AS
- Kenaikan defisit fiskal
- Penurunan kinerja pasar saham (IHSG)
DBS memperkirakan dalam skenario ekstrem, IHSG bisa terkoreksi hingga ke level 6.750 atau turun sekitar 25 persen dari puncaknya di 2026.
Selain itu, cadangan minyak Pertamina yang hanya sekitar 20 hari juga meningkatkan risiko kenaikan harga BBM dalam negeri jika harga global melonjak.
Pasar Global Ikut Bergejolak
Konflik geopolitik juga berdampak pada pasar keuangan global. Investor cenderung mencari aset aman seperti dolar AS, yen Jepang, dan emas.
Di sisi lain, biaya asuransi pengiriman minyak melonjak, bahkan sejumlah perusahaan asuransi berpotensi menghentikan perlindungan untuk kapal di kawasan Teluk.
Skenario Terburuk Masih Bisa Dihindari
Meski risiko besar membayangi, analis menilai dampak konflik terhadap pasar saham cenderung bersifat sementara. Namun, lonjakan harga minyak yang berkepanjangan dapat memicu inflasi global dan mengganggu kebijakan suku bunga bank sentral.
Untuk Indonesia, stabilitas ekonomi domestik dan kebijakan fiskal akan menjadi kunci dalam meredam dampak eksternal tersebut.
Konflik Timur Tengah bukan sekadar isu geopolitik, tetapi juga ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi global dan Indonesia. Lonjakan harga minyak, gangguan distribusi energi, hingga tekanan pada pasar keuangan menjadi risiko yang perlu diantisipasi sejak dini.













