Jakarta, CoreNews.id – Resiliensi ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah tekanan global, ditopang oleh kuatnya konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sekitar 54% terhadap produk domestik bruto (PDB). Konsumsi ini menjadi bantalan utama dalam meredam berbagai guncangan eksternal.
Namun, keberlanjutan daya tahan tersebut kini bergantung pada satu faktor krusial: kualitas lapangan kerja.
Mandiri Institute mencatat, struktur demografi ekonomi Indonesia tengah mengalami pergeseran signifikan. Sekitar 86 juta penduduk—atau satu dari tiga orang—masuk dalam kategori kelas menengah transisi (Transitional Middle Class), yang terdiri dari kelompok Upper Aspiring Middle Class (AMC) dan Lower Middle Class (MC).
Kelompok ini memiliki mobilitas tinggi, tetapi juga sangat rentan terhadap tekanan ekonomi.
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro, 8/4/2026, mengungkapkan, dalam periode 2019–2025, jumlah kelompok Lower MC menyusut lebih dari 11 juta orang. Sementara itu, kelompok Upper AMC cenderung stagnan dan belum mampu menembus kelas menengah yang lebih mapan.
Sebaliknya, kelompok menengah atas justru meningkat sekitar 416 ribu orang.
“tantangan utama adalah memastikan kelompok transisi memiliki dorongan yang cukup untuk naik kelas secara berkelanjutan,” ujar Andry.
Kualitas Pekerjaan Jadi Pembeda
Kajian Mandiri Institute menegaskan, kualitas pekerjaan menjadi faktor pembeda utama antara kelas menengah transisi dan kelas menengah mapan.
Meski lebih dari 50% kelompok transisi telah bekerja di sektor formal, angka ini masih tertinggal jauh—sekitar 28 poin persentase—dibanding kelompok menengah atas.
Kesenjangan ini berdampak langsung pada kemampuan akumulasi aset dan meningkatkan kerentanan terhadap guncangan ekonomi.
Dari sisi pengeluaran, kelompok transisi masih didominasi kebutuhan dasar:
- Transportasi: 20%
- Perumahan: 13%
- Tagihan rutin: 10%
Sementara alokasi untuk kesehatan dan pendidikan hanya sekitar 15%, dan konsumsi sekunder—seperti gaya hidup dan barang tahan lama—terbatas di kisaran 18%.
Minim Aset, Rentan Guncangan
Keterbatasan ruang finansial juga tercermin dari rendahnya kepemilikan aset cadangan.
Hanya sekitar 21% rumah tangga Upper AMC yang memiliki aset likuid seperti emas, jauh di bawah kelompok Upper MC yang mencapai 69%.
Tanpa buffer aset yang memadai, kelompok ini lebih rentan terhadap inflasi maupun kehilangan pendapatan.
Dorongan ke Sektor Produktif
Mandiri Institute menilai, penguatan kelas menengah harus dimulai dari penciptaan good jobs—lapangan kerja berkualitas di sektor produktif.
Hal ini dapat didorong melalui:
- peningkatan daya saing investasi,
- kemudahan berusaha,
- serta stimulus fiskal untuk sektor riil.
Selain itu, peningkatan produktivitas pekerja menjadi kunci utama untuk mendorong kenaikan pendapatan secara berkelanjutan.
Tercatat, lebih dari 2 juta penduduk di kelompok transisi sebenarnya telah siap naik kelas, didukung oleh pekerjaan yang relatif stabil, daya beli kuat, dan kepemilikan aset yang lebih baik.
Peran Perbankan dan Literasi Keuangan
Sebagai mitra strategis pemerintah, Bank Mandiri menegaskan komitmennya dalam memperkuat kelas menengah melalui:
- akses pembiayaan inklusif,
- serta program literasi keuangan.
Langkah ini diharapkan dapat membantu kelompok transisi dalam mengelola keuangan dan membangun aset produktif.













