Jakarta, CoreNews.id – Pesta sepak bola Afrika telah mencapai puncaknya. Dua raksasa benua itu, Maroko dan Senegal, akhirnya akan bentrok dalam partai puncak Piala Afrika 2025. Final yang sangat dinantikan ini akan digelar di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, pada Senin (19/1/2026) dini hari pukul 02.00 WIB.
Pertemuan ini bukan sekadar final biasa. Ini adalah duel antara sang juara bertahan, Senegal, yang tampak perkasa, melawan tuan rumah sekaligus favorit Maroko yang didukung puluhan ribu suporter di kandang sendiri. Sebuah narasi epik siap ditulis di Rabat.
Perjalanan Berdarah-Darah Sang Tuan Rumah
Maroko melangkah ke final dengan cara yang dramatis dan menegangkan. Dalam semifinal melawan Nigeria, The Atlas Lions harus menghadapi ujian mental dan fisik selama 120 menit. Pertandingan di Rabat itu berakhir tanpa gol meski kedua tim saling menyerang.
Drama puncak terjadi di babak adu penalti. Di bawah tekanan luar biasa, kiper andalan Yassine “Bono” Bounou tampil menjadi pahlawan. Ia berhasil mementahkan dua eksekusi Nigeria, dari Samuel Chukwueze dan Bruno Onyemaechi. Sementara, empat penendang Maroko (Neil El Aynaoui, Elisse Ben Seghir, Achraf Hakimi, dan Youssef En-Nesyri) sempurna menjalankan tugas. Skor 4-2 mengantarkan Maroko ke final lewat jerih payah maksimal.
Sepanjang laga, dominasi Maroko jelas terlihat. Peluang demi peluang diciptakan oleh Brahim Diaz, Achraf Hakimi, dan Abde Ezzalzouli. Namun, kiper Nigeria, Stanley Nwabali, tampil gemilang dengan sejumlah penyelamatan brilian. Keberhasilan akhirnya datang dari ketahanan mental dan komando Bounou di antara tiang gawang.
Senegal yang Dingin dan Mematikan
Berbeda dengan Maroko, perjalanan Senegal ke final terlihat lebih efisien dan dingin. Melawan Mesir di semifinal di Tangier, The Lions of Teranga bermain dengan penuh kontrol. Pertahanan mereka solid, serangan terorganisir, dan menunggu momen tepat.
Momen itu datang pada menit ke-78. Sang legenda hidup, Sadio Mané, sekali lagi membuktikan kelasnya. Ia menjadi pemecah kebuntuan dengan satu sentuhan akhir yang memutus pertahanan ketat Mesir. Gol tunggal itu cukup untuk membawa Senegal menang 1-0 dan melangkah ke final untuk kedua kalinya secara beruntun.
Senegal tampil percaya diri. Ancaman juga datang dari Nicholas Jackson, Habib Diarra, dan Iliman Ndiaye. Pertahanan yang dikomandoi Kalidou Koulibaly berhasil menetralisasi setiap ancaman dari Mesir, membuktikan bahwa mereka bukan hanya kuat menyerang, tetapi juga sangat disiplin di belakang.
Pertarungan Segala Lini
Final ini menjanjikan pertarungan strategi dan bintang di segala lini. Dua pelatih tangguh, Walid Regragui (Maroko) dan Aliou Cissé (Senegal), akan beradu taktik. Duel Achraf Hakimi melawan Sadio Mané di sisi kanan pertahanan Maroko akan menjadi salah satu sorotan utama. Laga juga akan diwarnai pertarungan fisik di lini tengah serta kegeniusan kiper seperti Bounou melawan penyerang tajam Senegal.
Sebelum final, perebutan tempat ketiga akan mempertemukan Nigeria dan Mesir di Stadion Mohammed V, Casablanca, pada Sabtu (17/1/2026) pukul 23.00 WIB. Namun, semua mata kini tertuju pada Rabat, di mana satu tim akan mengangkat trofi dan mengukuhkan diri sebagai raja terkuat Afrika. Apakah Senegal akan mempertahankan mahkota, atau Maroko akan memenangkannya di depan pendukung sendiri? Seluruh dunia menunggu jawabannya.












