Jakarta, CoreNews.id – Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar pertemuan darurat atas permintaan Amerika Serikat (AS) untuk membahas krisis yang semakin memburuk di Iran. Pertemuan berlangsung di Markas PBB, New York, Kamis (15/1/2026), menyikapi situasi yang berkembang sejak 28 Desember 2025.
Sidang tersebut diwarnai saling tuding antara perwakilan AS dan Iran. Amerika diwakili Duta Besar untuk PBB Mike Waltz, sementara Iran diwakili Wakil Perwakilan Tetap Gholamhossein Darzi.
Dalam pertemuan, Waltz menuding pemerintah Iran sebagai rezim yang lemah dan takut terhadap kekuatan rakyat. Ia menilai Teheran berbicara soal dialog, namun bertindak sebaliknya.
“Iran mengatakan siap berdialog, tetapi tindakannya menunjukkan sebaliknya. Ini adalah rezim yang memerintah melalui penindasan dan kekerasan,” ujar Waltz. Ia menegaskan Presiden Donald Trump memiliki seluruh opsi untuk merespons situasi tersebut.
Pernyataan itu dibantah keras Iran. Darzi menyebut pertemuan ini digunakan AS untuk menutupi keterlibatannya dalam kerusuhan di Iran.
“Sangat disayangkan perwakilan Amerika menggunakan kebohongan dan distorsi fakta untuk menyembunyikan peran negaranya,” kata Darzi. Ia menegaskan Iran menolak tuduhan pembunuhan demonstran dan menyatakan pasukan keamanan menghadapi kelompok teroris bersenjata yang didukung pihak asing.
Ketegangan ini kembali menegaskan tajamnya konflik diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat di tengah situasi kawasan Timur Tengah yang belum stabil.












