Jakarta, CoreNews.id — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) Januari 2026 sebesar 3,55 persen, menjadi yang tertinggi dalam lebih dari 2,5 tahun terakhir. Angka ini melampaui inflasi tahunan Mei 2023 yang sempat menyentuh 4,00 persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, setelah Mei 2023, inflasi tahunan tidak pernah lagi menyentuh level 4 persen. Bahkan, inflasi di atas 3,5 persen hanya terjadi sekali, yakni Juni 2023 sebesar 3,52 persen yoy.
“Inflasi tahunan Januari 2026 sebesar 3,55 persen (yoy) merupakan inflasi tertinggi sejak 2023. Pada Mei 2023 inflasinya 4,00 persen,” ujar Ateng di Jakarta, Senin.
BPS mencatat, inflasi tahunan pasca Juni 2023 bergerak dalam rentang 3,27 persen yoy pada Agustus 2023 hingga terendah 0,76 persen yoy pada Januari 2025. Perekonomian Indonesia bahkan sempat mengalami deflasi tahunan pada Februari 2025 sebesar 0,09 persen yoy, dipicu diskon tarif listrik 50 persen.
Dengan capaian Januari 2026, inflasi tercatat sedikit di atas target pemerintah, yakni 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen. Kenaikan inflasi ini tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang meningkat menjadi 109,75 dibanding 105,99 pada Januari 2025.
Menurut kelompok pengeluaran, inflasi yoy Januari 2026 terutama didorong Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga yang mengalami inflasi 11,93 persen dengan andil 1,72 persen. Selanjutnya, Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mencatat inflasi 15,22 persen dengan andil 1,00 persen.
Adapun komoditas penyumbang inflasi terbesar meliputi tarif listrik (andil 1,49 persen), emas perhiasan (0,93 persen), ikan segar (0,19 persen), serta beras dan tarif air minum PAM yang masing-masing berkontribusi 0,14 persen.
Di sisi lain, Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan mengalami deflasi tahunan 0,19 persen dengan andil minus 0,01 persen. Namun, secara komponen, seluruhnya mencatat inflasi, dengan harga yang diatur pemerintah tertinggi 9,71 persen (andil 1,77 persen), disusul komponen inti 2,45 persen dan volatile food 1,14 persen.













