Jakarta, CoreNews.id – Ajaran Islam menempatkan keadilan sebagai nilai utama dalam kehidupan bermasyarakat. Setiap bentuk kezaliman, terlebih yang dilakukan antar sesama manusia, dipandang sebagai perbuatan tercela yang berujung dosa. Karena itu, umat Islam diajarkan untuk menjauhi sikap menindas, baik dalam ucapan maupun perbuatan.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa kehormatan seorang manusia tidak boleh dirusak. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa harta, darah, dan harga diri seorang Muslim adalah haram untuk dilanggar oleh Muslim lainnya. Bahkan, menghina saudara sendiri sudah cukup menjadi indikator keburukan akhlak seseorang.
Larangan berbuat zalim tidak hanya berlaku kepada sesama Muslim. Islam juga mengajarkan keadilan terhadap siapa pun, tanpa memandang perbedaan iman. Dalam konteks ini, doa orang yang dizalimi memiliki kedudukan istimewa. Rasulullah SAW bersabda agar manusia waspada terhadap doa orang yang teraniaya, sebab tidak ada penghalang antara doa tersebut dan Allah SWT.
Ketika menghadapi ketidakadilan, Islam tidak mendorong pembalasan serupa. Sebaliknya, umat diajak untuk bersandar kepada Allah SWT yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Salah satu doa yang dianjurkan dibaca saat dizalimi terdapat dalam Alquran surah Al-Qashas ayat 21, yang juga pernah dipanjatkan oleh Nabi Musa AS:
Rabbi najjinii minal qaumiz zhaalimiin
Artinya: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.”
Doa ini dapat diperkuat dengan munajat lain dari Alquran surah Al-Anbiya ayat 87, doa Nabi Yunus AS saat berada dalam kesempitan:
Laa ilaaha illa anta subhaanaka innii kuntu minaz zhaalimiin
Artinya: “Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Melalui doa-doa tersebut, Islam mengajarkan bahwa menghadapi kezaliman tidak selalu dengan kekuatan fisik, melainkan dengan kekuatan iman dan pengharapan penuh kepada Allah SWT.
Sumber: Republika.co.id













