Jakarta, CoreNews.id – Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali duduk di meja perundingan di Oman, Senin (2/2/2026), di tengah bayang-bayang eskalasi militer yang belum sepenuhnya mereda. Pertemuan ini menjadi yang pertama sejak serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran dalam perang Iran–Israel pada Juni 2025.
Oman kembali memainkan peran penting sebagai mediator, sebagaimana pernah dilakukan dalam negosiasi sebelumnya. Dari pihak Teheran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi tiba bersama sejumlah diplomat. Sementara delegasi Washington dipimpin utusan khusus Steve Witkoff, dengan Jared Kushner turut mendampingi dalam kunjungan ke Timur Tengah.
Dalam pernyataannya di platform X, Araghchi menegaskan bahwa Iran memasuki diplomasi dengan “mata terbuka dan ingatan yang utuh atas setahun terakhir”. Ia menekankan pentingnya kedudukan setara dan saling menghormati sebagai fondasi kesepakatan berkelanjutan.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengingatkan bahwa “hal-hal buruk” dapat terjadi bila kesepakatan tidak tercapai. Juru Bicara Gedung Putih menyebut Trump memiliki banyak opsi selain diplomasi.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan, pembahasan tidak boleh terbatas pada program nuklir. Washington menghendaki isu rudal balistik, dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata di kawasan, hingga perlakuan pemerintah terhadap rakyatnya ikut dibicarakan.
Tekanan terhadap Teheran juga datang dari dalam negeri. Gelombang protes nasional bulan lalu disebut sebagai tantangan terbesar terhadap kepemimpinan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei sejak Revolusi Islam 1979. Ribuan orang dilaporkan tewas dan puluhan ribu ditangkap dalam kerusuhan tersebut.
Di kawasan, kekhawatiran akan meluasnya konflik kian terasa. Kanselir Jerman Friedrich Merz mendesak Iran untuk serius berunding, seraya mengingatkan risiko eskalasi militer. Sementara itu, negara-negara Teluk mencemaskan potensi perang regional, terutama setelah insiden di sekitar kapal induk AS USS Abraham Lincoln dan ketegangan di Selat Hormuz.
Hingga kini, belum jelas sejauh mana Iran bersedia memperluas agenda pembicaraan. Teheran menegaskan fokus hanya pada program nuklir. Namun, sejumlah diplomat regional dilaporkan menawarkan proposal penghentian sementara pengayaan uranium dan komitmen terkait penggunaan rudal balistik.
Di tengah ketidakpastian itu, Kedutaan Virtual AS di Teheran mengimbau warganya segera meninggalkan Iran atau mencari lokasi aman. Perundingan di Oman pun menjadi penentu apakah jalur diplomasi masih mampu meredam potensi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.













