Jakarta, CoreNews.id – Siapa sangka, di sudut terpencil Nusantara, tersembunyi benteng terakhir keanekaragaman hayati laut dunia. Itulah fakta mencengangkan yang dipaparkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama WWF Indonesia dari hasil Ekspedisi Kawasan Konservasi Kepulauan Romang dan Damer, Maluku Barat Daya (MBD) 2025.
Selama sebulan penuh, tim ilmuwan menyisir perairan Romang–Damer. Hasilnya? Perairan MBD dikukuhkan sebagai salah satu ekosistem laut paling resilien di dunia, disuplai nutrisi dari Laut Banda dan Samudera Hindia. Di tengah krisis iklim global, wilayah ini justru tampil sebagai pertahanan terakhir biodiversitas laut.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, dalam siaran pers, 5/2/2026, menegaskan bahwa temuan ilmiah ini menjadi fondasi penting kebijakan konservasi berbasis data dan ekonomi biru.
Habitat Dugong Terbesar di Indonesia
Yang paling mengejutkan: penemuan habitat dugong terbesar di Indonesia. Dalam satu hamparan padang lamun, peneliti mencatat 32 ekor dugong—angka yang bahkan tergolong langka secara global. Ekosistem lamun di kawasan ini berada dalam kondisi sangat baik, dengan tutupan di atas 50 persen dan mencakup 9 dari 14 jenis lamun Indonesia.
Tak hanya itu, tutupan terumbu karang rata-rata mencapai 51,4 persen—melampaui rata-rata regional 34 persen. Beberapa koloni bahkan berusia 100–200 tahun. Ini bukan sekadar laut indah; ini arsip hidup sejarah ekologi Indonesia.
Perairan MBD juga menjadi koridor migrasi bagi 24 spesies laut terancam punah dan dilindungi, mulai dari paus biru, orca, hiu martil, hingga penyu dan dugong. Artinya, kerusakan di sini bukan hanya tragedi lokal—melainkan ancaman global.
Alarm Bahaya di Balik Keajaiban
Namun keajaiban ini berada di ujung tanduk. Ancaman bom ikan, racun, perburuan penyu, sampah plastik, hingga ghost net mulai mengintai. WWF Indonesia menegaskan perlunya penguatan pengawasan berbasis masyarakat melalui Pokmaswas.
Di tengah tantangan, masyarakat adat MBD tetap menjadi penjaga garda depan. Praktik Sasi dan nilai “Kalwedo”—yang bermakna persaudaraan dan kebersamaan—menjadi tameng sosial menjaga laut tetap lestari.
Maluku Barat Daya kini bukan lagi sekadar titik di peta. Ia adalah simbol harapan—atau sebaliknya, saksi bisu kegagalan kita menjaga masa depan laut Indonesia.













