Teheran, CoreNews.id — Mojtaba Khamenei terpilih menjadi pemimpin tertinggi Iran setelah ayahnya Ali Khamenei meninggal dalam serangan yang dilancarkan AS dan Israel. Dalam serangan tersebut pula, selain ayahnya, ibu, istri, dan salah satu anaknya juga meninggal. Mojtaba Khamenei adalah putra kedua yang lebih dekat dengan Garda Revolusi Iran (IRGC) dan sempat bergabung bersama Batalyon Habib dalam Perang Iran-Irak selapa 1980-an.
Menurut Barbara Slavin dari Stimson Institute dikutip Aljazirah (8/3/2026), Mojtaba telah memerintah bersama ayahnya selama bertahun-tahun. Mengingat ancaman nyata yang dihadapi Republik Islam, tampaknya cukup logis untuk menempatkannya di sana karena ia mengenal semua orang dan mengetahui semua hal.
Sementara itu, Direktur Lembaga Pemikir DiploHouse di Teheran Hamid Reza Gholamzadeh kepada Aljazirah, menyatakan jika Ali Khamenei tidak memiliki peran dalam memilih putranya untuk menggantikannya. Gholamzadeh mengklaim bahwa Ali Khamenei pada awalnya menentang gagasan tersebut dan mengatakan bahwa tanggung jawab penunjukan tersebut sepenuhnya berada di tangan Majelis Ahli.
Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru oleh Majelis Ahli Iran disambut baik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Ia menyatakan penunjukan Mojtaba Khamenei menandai “era baru martabat dan kekuatan” bagi bangsa. Demikian pula angkatan bersenjata Iran, IRGC dan para pemimpin tertinggi Iran, termasuk Mohammed-Bagher Qalibaf dan Ali Larijani, juga telah berjanji setia kepada pemimpin tertinggi baru.*













