Jakarta, CoreNews.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatat kinerja keuangan positif sepanjang 2025. Perusahaan energi panas bumi ini membukukan pendapatan US$432,73 juta hingga akhir tahun, naik 6,29 persen dibandingkan 2024 yang sebesar US$407,12 juta.
Direktur Keuangan PGE Yurizki Rio mengatakan capaian tersebut mencerminkan fundamental keuangan perusahaan yang tetap kuat di tengah dinamika industri energi global. “Kinerja ini juga ditopang oleh produksi yang mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah atau all-time high,” kata Yurizki dalam keterangan tertulis, Ahad, 8 Maret 2026.
Produksi panas bumi PGE meningkat 5,6 persen sepanjang 2025. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi per 31 Desember 2025, perusahaan juga mencatat laba bersih US$137,67 juta. Total aset PGE mencapai US$3,03 miliar dengan kas dan setara kas sebesar US$718,50 juta.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan perusahaan menargetkan pertumbuhan berkelanjutan dengan memaksimalkan potensi energi panas bumi nasional. PGE, kata dia, ingin menjadi produsen panas bumi kelas dunia sekaligus pusat keunggulan geothermal global.
Saat ini PGE mengelola pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan kapasitas terpasang 727 megawatt. Perusahaan juga menyiapkan sejumlah proyek pengembangan untuk meningkatkan kapasitas dan produksi.
Beberapa proyek yang tengah dikembangkan antara lain Lumut Balai Unit 3 dan 4 (2×55 MW), Hululais Unit 1 dan 2 (110 MW), serta Lahendong Unit 7 dan 8 (2×20 MW) dan Binary Unit (10 MW). Selain itu, PGE mengembangkan proyek co-generation dengan total kapasitas 230 MW.
Dalam jangka panjang, PGE menargetkan kapasitas terpasang hingga 3 gigawatt dari 15 wilayah kerja panas bumi yang dikelola. Perusahaan juga memperkuat kolaborasi dengan PLN Indonesia Power untuk mengembangkan 19 proyek panas bumi dengan kapasitas 530 MW, yang berpotensi meningkat hingga 1.130 MW.
Langkah ini diharapkan mempercepat pemanfaatan energi panas bumi dan mendukung target transisi energi nasional.













